Langsung ke konten utama

Postingan

Teruntuk: Yang Sedang Lupa Dengan Tujuan Hidupnya (Izzatuzzahra We Tanawali)   Kita harus jelas sama tujuan hidup sendiri, jangan cuma ngikut arus atau "ya udah jalanin aja". Tentuin garis besar mau ke mana, biar langkah kita juga jelas arahnya.  Kalau udah tahu tujuannya, pasti bisa nyampe kok. Kuncinya bukan di orang lain, tapi di kemauan dan usaha diri sendiri. Manusia emang lahir tanpa apa-apa, tapi selama hidup pasti naik turun—kadang di atas, kadang di bawah. Ada yang terkenal, ada juga yang nggak dikenal. Tapi semua orang punya takdir dan jalan hidup masing-masing sesuai kemampuan dan perjuangannya. Nggak ada orang sukses yang tiba-tiba "langsung jadi". Semua ada prosesnya. Setiap orang punya tujuan hidup. Dan selama kita masih hidup, tujuan itu selalu nemenin kita kayak bayangan. Dan bersyukurlah, karena Tuhan udah ngasih kita rasa ikhlas buat nerima dan jalanin peran kita masing-masing. Bayangin ada seorang supir yang nyetir mobilnya lewat jalan p...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...
  KETIKA HATI MULAI HILANG ARAH (Nur Fadhilah K) Ada masa di mana langkah terasa ringan tapi jiwa terasa berat. Ada waktu di mana semua terlihat baik-baik saja, tapi hati terasa kosong.             Kadang hidup berjalan begitu cepat. Kita sibuk dengan rutinitas, mengejar cita-cita, dan menumpuk rencana yang seolah tak ada habisnya. Tapi di tengah semua itu, tanpa sadar kita menjauh dari sumber ketenangan sejati (Allah). Pelan-pelan, tapi pasti, hati mulai kehilangan arah.             Kita masih sering berdo’a, meminta agar jalan hidup kita dimudahkan, rezeki  kita dilancarkan, hati dikuatkan. Tapi kalau jujur, kapan terakhir kali kita benar-benar mendekat kepada Allah tanpa pamrih?, kapan terakhir kita membuka  Al-Qur’an, meresapi  ayat-ayat-Nya, atau sekadar berdzikir dengan tenang tanpa terburu-buru?. Sungguh, tekadang malu rasanya. Kita minta banyak, tapi ...
  PESAN DIBALIK SATU NAMA (Nur Fadhilah) Di saat tenang, amanah itu kembali menyapa. Meminta segala sesuatu yang aku tak tahu apakah aku bisa. Setiap datang terkesan memaksa meski sudah menolak dengan cara tak biasa. Hari berganti begitu saja, tak peduli seberapa berat apa yang berada di pundak ini. Egois rupanya waktu jika kita belum begitu mengenalnya. Namun di saat kita mulai memahami segala sesuatu, akan ada masa di mana kita mampu untuk terus maju. Ingin rasanya semua berjalan cepat, tanpa proses   yang terus mendesak. Jika aku bingung bagaimana cara berhenti, justru lebih bingung menjawab pertanyaan kenapa bisa bertahan sampai saat ini. Lelah itu sudah pasti dan hal yang aku takuti kapan saja bisa   terjadi. Rasa sedih, senang, marah, bercampur aduk setiap hari mengisi ruang hati seiring waktu berjalan tiada henti. Hal itu rupanya akan terlupa dan tak akan tersimpan secara abadi. Akhir dari pesan di balik namaku ini, kuharap bisa terus bertahan mengikuti s...
  Menunaikan Janji Mulia (Azizah Yunus) Aku sebagai anak yang diharapkan agar terwujudnya cita-cita mulia kedua orang tua yang belum tertuntaskan. Mereka menggantungkan harapan pada sebuah sepasang mahkota kemuliaan yang dijanjikan oleh para penghafal Al-Qur’an di akhirat kelak. Impian dan cita-cita yang harus kuperjuangkan demi kebahagiaan mereka. Walau berbeda dengan anak-anak yang banyak mendapatkan penghargaan yang istimewa atas prestasi yang mereka miliki. Akan tetapi, perjuanganku aku hadiahkan sebagai penghargaan yang mulia buat kedua orang tuaku. Walau nyaris menyerah, tapi  ada doa yang selalu membuatku bertahan, yaitu doa ibuku yang tulus. Aku memulai menghafal Al-Qur’an sejak duduk dibangku kelas 6 MI. Pada saat itu ada sebuah acara ORMAS Muslimah di kampungku yaitu MWC Pituaparus. Mereka mengadakan acara khusus buat anak-anak seusiaku, pada saat itu yakni Tahfidz Qur’an Cilik angkatan pertama. Di acara ini aku mulai memiliki teman bahkan menjadi sahabat pen...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...
  Menjadikannya Pelita di Setiap Langkah (Alya To’oly) Dalam kehidupan yang dipenuhi hiruk-pikuk dunia, Al-Qur’an hadir bukan sekadar sebagai bacaan suci yang dilantunkan di waktu-waktu tertentu, tapi sebagai cahaya yang membimbing hati, akal, dan perbuatan. Ia adalah surat cinta dari Allah kepada hamba-Nya—penuh petunjuk, rahmat, dan ketenangan bagi siapa saja yang mau mendekat. Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk direnungi, dijadikan teman harian, dan dicintai dengan seluruh hati. Rasulullah ﷺ telah menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks yang dihafal, melainkan kehidupan yang dijalani. Akhlak beliau adalah perwujudan dari isi Al-Qur’an itu sendiri. Maka hidup yang terikat dengan Al-Qur’an adalah hidup yang sarat makna: di setiap langkah, ada tuntunan; di setiap keresahan, ada penenang; dan dalam setiap pilihan, ada cahaya yang menunjukkan mana jalan yang Allah ridai. Memang tidak selalu mudah untuk menjaga hubungan yang konsisten dengan Al-...