Saat Pulang Tak Lagi Sama (Fika Khairiah) Dia terus melangkah di antara puluhan pasang mata yang berkumpul, memperhatikan sosoknya yang menjadi penantian dari perantauan. Pikirannya kacau, wajahnya pucat, tubuhnya bergetar, dan matanya berlinang dengan langkah tertatih menuju tempat Sang Ayah terbaring, yang tertutup dengan sehelai kain. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka kain itu. Jarinya menyentuh pipi, kepala, tangan. “Dingin,” pikirnya, disusul oleh tangisan yang akhirnya tak bisa lagi ia tahan. Satu... dua... tiga hari berlalu. Ketidakhadiran Sang Ayah masih terasa asing baginya. Ia mencoba menyadari, berusaha mengikhlaskan, tetapi nyatanya semua itu adalah bentuk adaptasi yang paling sulit. Ia terus mencari, menyusuri setiap sudut rumah yang menjadi saksi kehidupan Ayahnya. Ia membuka galeri ponsel, berharap menemukan kenangan, tapi hanya ada satu foto bersama. Tak ada video. Riwayat pesan pun hanya beberapa. Telepon? Bisa dihitung jari. Ia pun merebahkan tubuhn...