Seni Berpura-pura Baik (Patrina Sari) Ada satu momen yang sering kita alami, namun jarang kita bicarakan: saat kita harus berdiri di depan orang banyak, melempar senyum paling simetris, dan menjawab "Aku baik-baik saja" dengan nada yang sangat meyakinkan. Di dunia luar, kita adalah sosok yang manifes secara fungsional. Kita adalah mahasiswa yang tetap merawat mimpi, anak yang selalu tampak kuat tanpa celah, dan teman yang masih bisa menghadirkan tawa. Namun, di balik layar yang tertata rapi itu, ada sebuah proses yang melelahkan. Rupanya, berpura-pura baik itu tak semudah yang dibayangkan. Ia memerlukan energi besar untuk menahan gemuruh di kepala agar tidak meluap keluar menjadi air mata atau keluhan yang panjang. Belakangan ini, kepala sering kali tidak berada di tempat tubuh berada. Saat duduk menghadap laptop untuk mengerjakan tugas dan skripsi, pikiran kita justru "terbang" m...
Ujian Komprehensif: Saat Kenangan Desa Bertabrakan dengan Tumpukan Muqarrar (Patrina Sari) Mendengar kata "Ujian Komprehensif" saja rasanya sudah cukup untuk membuat pundak terasa berat. Apalagi ketika jadwalnya dipatok tepat sepekan setelah kita mengemas barang dari lokasi KKN. Juga aroma rindu dengan suasana rumah di kampung halaman sudah sangat semerbak. Ada semacam benturan emosional di sana. Di satu sisi, jiwa kita masih tertinggal di desa, masih ingin menikmati canda tawa yang belum tuntas atau cerita-cerita yang tertahan di sela-sela proker. Namun, realita membawa kita untuk tidak berlama-lama larut dalam nostalgia. Sepekan adalah waktu yang sangat singkat untuk memanggil kembali ingatan yang sudah terserak selama 4 hingga 5 tahun yang lalu. Jujur saja, rasanya hampir mustahil. Kita perlu kembali menyelami tumpukan muqarrar saat ingatan kita masih sangat kental dengan nuansa pengabdian. Otak kita masih merekam ar...