Langsung ke konten utama

Postingan

MENAPAKI LELAH TANPA HENTI ( Wulan Ardina )      Setiap langkah ini, ada harapan-harapan orang tua di dalamnya, yang diam-diam mereka titipkan lewat doa-doa panjang di setiap sujudnya. Langkah ini bukan sekadar perjalanan, tapi juga perjuangan—untuk membalas lelah yang tak pernah mereka keluhkan, untuk menjawab kepercayaan yang mereka berikan tanpa ragu.      Kadang terasa berat, kadang ingin berhenti sejenak, namun mengingat wajah mereka, semua kembali menguatkan. Karena di ujung langkah ini, bukan hanya tentang keberhasilan, tetapi tentang membuat mereka tersenyum bangga—dan berkata dalam hati, “perjuangan kita tidak sia-sia.” Lihatlah... Banyak orang di luar sana yang membutuhkan doa itu, tetapi pemilik doa tersebut telah lama pergi. Banyak pula orang yang ingin berada di posisimu, namun mereka tpmemiliki keterbatasan yang tak mampu mereka hadapi… Lihatlah… Mereka memiliki keinginan setinggi langit, tidak sepertimu yang terkadang hanya berhenti pada lang...
Postingan terbaru
  Tempat Hati yang Lelah Beristirahat (Nurul Azizah)      Menjadi mahasiswi di kampus dakwah dan perjuangan bukanlah hal yang mudah. Di balik senyum yang mengembang dan aktivitas yang berjalan setiap hari, ada banyak cerita yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Ada tugas yang menumpuk, ada target hafalan yang harus dijaga, ada amanah organisasi yang harus ditunaikan, serta berbagai tuntutan untuk terus berkembang menjadi lebih baik.      Sebagai mahasiswi IAI STIBA Makassar sekaligus bagian dari unit kegiatan mahasiswa (UKM), saya merasakan bahwa kesibukan bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga menguras kondisi psikologis seseorang. Beberapa orang mengalami kondisi kelelahan mental, merasa cemas terhadap masa depan, takut tidak memenuhi ekspektasi, atau bahkan merasa kesepian meskipun berada di tempat banyak orang.      Kondisi ini sebuah bentuk dari kelelahan emosional seseorang, yaitu keadaan ketika seseorang merasa lelah seca...
Produktif atau Terpaksa Sibuk: Dilema Mahasiswi di Era Serba Cepat (Selfiana Elvira Sari Ramadhani)      Di kampus, kita sering merasa harus selalu bergerak. Jadwal kuliah sudah padat, tetapi rasanya belum cukup jika tidak diisi dengan organisasi, kepanitiaan, atau berbagai kegiatan lain. Seolah ada standar tidak tertulis, semakin sibuk, semakin dianggap hebat.      Tanpa sadar, kita mulai mengukur diri dari seberapa penuh agenda harian kita. Pagi dimulai dengan kelas, siang diisi rapat, sore mengejar deadline, dan malam masih harus membuka laptop untuk tugas. Waktu terasa berjalan cepat, tetapi energi perlahan terkuras habis.      Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Kita hadir di kelas, aktif di organisasi, dan tetap tersenyum saat bertemu teman. Namun di dalam diri, tidak sedikit yang sebenarnya sedang lelah, lelah yang sulit dijelaskan, karena secara “tampilan”, hidup terlihat tetap berjalan normal.      Di sisi lain,...