Langsung ke konten utama

Postingan

Yang Tak Terlihat  (Nur Azlin)     Tidak semua perjuangan terlihat. Ada yang berlangsung di balik rutinitas yang tampak biasa, di balik senyum yang tetap diberikan, dan di balik jawaban singkat, “Aku baik-baik saja,” setiap kali seseorang bertanya tentang kabar.     Pada fase tertentu dalam hidup, rasanya semua tanggung jawab datang bersamaan. Ada amanah yang tidak bisa ditinggalkan, tujuan yang harus dicapai, dan keadaan yang menuntut kita untuk terus melangkah meski tenaga dan pikiran mulai terkuras.     Melalui proses itu, kita belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada hal-hal yang berada di luar kendali, ada harapan yang tidak terwujud seperti yang diinginkan, dan ada momen-momen yang diam-diam mengajarkan arti menerima dengan lapang.     Yang paling melelahkan bukan selalu banyaknya pekerjaan, melainkan usaha untuk tetap tenang di tengah berbagai kekhawatiran. Tetap menjalankan tanggung jawab, menj...
Postingan terbaru
Melangkah dengan Tenang  (Patrina Sari)      Kita sering kali lelah bukan karena jalurnya yang menanjak, melainkan karena mata kita yang terlalu sering menengok ke kanan dan ke kiri. Melihat si A yang sudah menggenggam pencapaian ini, atau si B yang tampaknya begitu mulus melenggang ke gerbang kesuksesan yang megah.       Tanpa sadar, kita menjadikan hidup orang lain sebagai barometer mutlak, lalu menghukum diri sendiri dengan kalimat, "Kenapa aku belum sampai di sana?". Lelah sekali memang jika standar kesuksesanmu orang lain.      Kita dipaksa berlari di lintasan yang bukan milik kita, mengenakan sepatu yang ukurannya salah, demi mengejar garis finish yang sejatinya tidak pernah benar-benar kita inginkan. Membandingkan proses kita dengan hasil akhir orang lain adalah cara paling kejam untuk meremehkan perjuangan diri sendiri.      Maka, katakan pada hatimu yang mulai sesak itu: "cukup." Berhentilah menoleh hanya unt...
Sebelum Benar-benar Jauh (Cahyu Cahyani)      Belakangan ini mulai mengerti, ternyata terlalu dangkal apabila seluruh perjalanan bertumbuh ini hanya dimaknai sebagai persiapan untuk menjadi seseorang bagi orang lain di masa depan. Sebab semakin banyak yang dilewati, semakin menyadari bahwa sebelum menjadi apapun bagi siapapun, ada satu kehidupan yang terlebih dahulu perlu untuk dipahami, dirawat, dan dipertanggungjawabkan dengan sungguh-sungguh: hidupku sendiri.      Ajaibnya, usia mengajariku sesuatu yang tidak pernah benar-benar diajarkan di bangku mana pun. Tentang hal-hal yang hanya bisa dipahami dan diterima, tentang keputusan yang lahir dari ego, tentang sikap baru yang baru disadari setelah melukai.      Mungkin karena itu, aku ingin terus belajar, bukan untuk menjadi paling hebat atau terlihat paling baik. tetapi agar ketika Tuhan melihat hidup yang ia titipkan, aku tidak datang dengan tangan kosong, dan hati yang enggan dibentuk. ...
Menapaki Lelah Tanpa Henti ( Wulan Ardina )      Setiap langkah ini, ada harapan-harapan orang tua di dalamnya, yang diam-diam mereka titipkan lewat doa-doa panjang di setiap sujudnya. Langkah ini bukan sekadar perjalanan, tapi juga perjuangan—untuk membalas lelah yang tak pernah mereka keluhkan, untuk menjawab kepercayaan yang mereka berikan tanpa ragu.      Kadang terasa berat, kadang ingin berhenti sejenak, namun mengingat wajah mereka, semua kembali menguatkan. Karena di ujung langkah ini, bukan hanya tentang keberhasilan, tetapi tentang membuat mereka tersenyum bangga—dan berkata dalam hati, “perjuangan kita tidak sia-sia.” Lihatlah... Banyak orang di luar sana yang membutuhkan doa itu, tetapi pemilik doa tersebut telah lama pergi. Banyak pula orang yang ingin berada di posisimu, namun mereka memiliki keterbatasan yang tak mampu mereka hadapi… Lihatlah… Mereka memiliki keinginan setinggi langit, tidak sepertimu yang terkadang hanya berhenti pada langka...
  Tempat Hati yang Lelah Beristirahat (Nurul Azizah)      Menjadi mahasiswi di kampus dakwah dan perjuangan bukanlah hal yang mudah. Di balik senyum yang mengembang dan aktivitas yang berjalan setiap hari, ada banyak cerita yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Ada tugas yang menumpuk, ada target hafalan yang harus dijaga, ada amanah organisasi yang harus ditunaikan, serta berbagai tuntutan untuk terus berkembang menjadi lebih baik.      Sebagai mahasiswi IAI STIBA Makassar sekaligus bagian dari unit kegiatan mahasiswa (UKM), saya merasakan bahwa kesibukan bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga menguras kondisi psikologis seseorang. Beberapa orang mengalami kondisi kelelahan mental, merasa cemas terhadap masa depan, takut tidak memenuhi ekspektasi, atau bahkan merasa kesepian meskipun berada di tempat banyak orang.      Kondisi ini sebuah bentuk dari kelelahan emosional seseorang, yaitu keadaan ketika seseorang merasa lelah seca...
Produktif atau Terpaksa Sibuk: Dilema Mahasiswi di Era Serba Cepat (Selfiana Elvira Sari Ramadhani)      Di kampus, kita sering merasa harus selalu bergerak. Jadwal kuliah sudah padat, tetapi rasanya belum cukup jika tidak diisi dengan organisasi, kepanitiaan, atau berbagai kegiatan lain. Seolah ada standar tidak tertulis, semakin sibuk, semakin dianggap hebat.      Tanpa sadar, kita mulai mengukur diri dari seberapa penuh agenda harian kita. Pagi dimulai dengan kelas, siang diisi rapat, sore mengejar deadline, dan malam masih harus membuka laptop untuk tugas. Waktu terasa berjalan cepat, tetapi energi perlahan terkuras habis.      Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Kita hadir di kelas, aktif di organisasi, dan tetap tersenyum saat bertemu teman. Namun di dalam diri, tidak sedikit yang sebenarnya sedang lelah, lelah yang sulit dijelaskan, karena secara “tampilan”, hidup terlihat tetap berjalan normal.      Di sisi lain,...