Masih Adakah Ruang Untuk Iman?
Di zaman yang serba digital, rasanya ruang hidup telah dipenuhi dengan berbagai macam informasi dan notifikasi yang datang dari segala arah. Gadget bukan lagi sesuatu yang asing bagi kita, ia dapat ditemukan diberbagai tempat dan memudakan banyak hal, mulai dari komunikasi, pekerjaan, hingga menjadi tempat mencari hiburan. Semua bisa terakses lewat benda yang hampir selalu berada dalam genggaman, smartphone. Di era seperti ini, tantangan kita tidak hanya datang dari dunia luar, tetapi, “Apa yang kita izinkan masuk dalam hati?”
Dulu, kita memiliki
banyak waktu untuk bermulazamah dengan Al-Qur’an. Sekarang, posisi Al-Qur’an
telah tergantikan oleh smartphone. Beragam konten yang terakses terasa lebih
menarik dibandingkan berkomunikasi dengan Allah melalui ayat-ayat-Nya. Setiap
hari, tanpa sadar kita membuka layar begitu lama. Satu demi satu konten kita
konsumsi, yang perlahan menjauhkan hati dari Allah. Kita membiarkan diri hanyut
di dalamnya, waktu berlalu begitu saja, mata yang selalu menatap layar,
sementara hati semakin lelah dan kosong. Scroll yang awalnya hanya “sebentar”
berubah menjadi jam-jam yang hilang. Bukan hanya waktu yang terbuang, tetapi
juga kejernihan hati. Tanpa disadari, apa yang kita lihat membentuk apa yang
kita rasakan, dan apa yang kita rasakan membentuk siapa diri kita.
Jadi, perlu untuk kita
ketahui, iman tidak menuntut kita hidup terputus dari zaman, tetapi
kehadirannya mengajarkan kita untuk hadir dengan kesadaran, bahwa setiap hati perlu
sebuah iman agar ketenangan tetap hadir bersamanya. Di tengah notifikasi yang
tak pernah berhenti, iman senantiasa hadir tapi sering kita abaikan, ia
membutuhkan ruang meski hanya dalam waktu singkat di antara kesibukan. Dalam lantunan
doa, dalam pandangan yang dijaga, dalam keputusan kecil untuk berhenti sejenak
dan mengingat Allah.
Mungkin kita tidak bisa
sepenuhnya lepas dari layar, tetapi kita masih bisa memilih apa yang kita
izinkan menetap di hati. Karena iman tidak menuntut hidup yang sempurna, ia
hanya meminta kesadaran bahwa di balik segala kesibukan dunia, kita masih tahu
ke mana harus kembali. Dan selama hati masih gelisah ketika jauh dari-Nya, selama
itu pula ruang untuk iman masih ada. Tinggal apakah kita mau menjaganya, atau
membiarkannya tertutup oleh kesibukan yang tak pernah benar-benar memberi kita
ketenangan.

Komentar
Posting Komentar