Langsung ke konten utama

 Untukmu yang Sedang Bertumbuh

(Tiara)


Ada fase dalam hidup ketika kita merasa terus berlari.

Jadwal kuliah menumpuk, amanah organisasi menunggu, hafalan mengejar target, dan di sela-selanya kita mencoba menjadi versi diri yang lebih baik. Rasanya seakan dunia menuntut kita untuk selalu bergerak, tidak boleh berhenti, tidak boleh lemah, dan tidak boleh kalah.

Sering kali, kita menyamakan self improvement dengan produktivitas. Seakan hanya ketika kita sibuk, kita dianggap hebat. Seakan hanya ketika kita punya banyak kegiatan, kita layak dipandang. Dan dari situ muncullah kegelisahan: Kalau kita berhenti sebentar, kita akan tertinggal.

Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: "Aku ingin membaik, atau hanya ingin terlihat membaik?"

Menjadi mahasiswi bukan hanya tentang mengerjakan tugas atau memenuhi ekspektasi. Ini adalah fase ketika kita mulai mengambil keputusan sendiri, ketika kita belajar mengenal diri dan memahami ke mana kita ingin melangkah.

Perlu kita ingat, bahwa tidak semua hari perlu besar. Kadang, ada hari ketika kita penuh semangat... dan ada hari ketika kita hanya perlu untuk bertahan. Justru dalam hari-hari yang biasa itu, kita sedang belajar bahwa konsisten jauh lebih berarti daripada ambisi besar yang hanya bertahan sehari.

Berkembang bukan tentang berapa banyak hal yang bisa kita lakukan, tetapi sejauh mana kita hadir pada setiap langkah. Dan ada saat ketika yang paling kita butuhkan bukan rencana besar, tapi keberanian untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya pada diri sendiri:

"Apa yang sebenarnya sedang aku kejar?"

Dalam proses ini, refleksi menjadi bagian penting. Menyadari apa yang terjadi di dalam diri dan memahami apa yang kita rasakan. Kita tidak perlu menunggu pencapaian besar untuk merasa berhasil. Kadang, keberhasilan yang paling berarti adalah ketika kita bisa melihat diri sendiri dengan lebih jujur.

Luangkanlah waktu untuk berdamai dengan diri sendiri. Dengarkan apa yang sebenarnya kamu butuhkan. Beri ruang bagi lelah, namun tetap sisakan tempat untuk harapan karena kamu tidak harus sempurna untuk layak bertumbuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Menemukan Kekuatan Dalam Kelemahan (Rahmatan) Kali ini benar-benar berat, banyak kejutan dari-Nya yang tak terduga. Lelah, tapi memaksa untuk terus berjalan. Rapuh, tapi memaksa untuk bertahan. Sering kali isi hati dan pikiran berjalan tidak seirama. “Ya Allah kata mereka amanah tidak pernah salah memilih pundak, Engkau memberi amanah itu karena Engkau percaya padaku. Maka jadikanlah aku percaya bahwa kasih sayang-Mu menguatkanku,” bisiknya lirih dalam doa. Awalnya aku mengira semuanya akan baik-baik saja, ternyata aku tak sekuat itu, Aku tidak selalu terlihat kuat. Setiap kali bertemu dengan hal yang tidak mengenakkan, kadang ada luka yang merelakan air mata keluar. Aku bukan orang yang hebat dalam menghadapi setiap masalah, kadang ada rasa ingin menyerah tiap kali bertemu peristiwa menyakitkan. “Aku hanya manusia biasa.” Tiap hari aku selalu berusaha berdamai dengan keadaan, aku terlalu memaksakan diri untuk menjadi orang yang baik-baik saja. Berpura-pura tertawa sa...