Langsung ke konten utama

 

PESAN DIBALIK SATU NAMA

(Nur Fadhilah)

Di saat tenang, amanah itu kembali menyapa. Meminta segala sesuatu yang aku tak tahu apakah aku bisa. Setiap datang terkesan memaksa meski sudah menolak dengan cara tak biasa.

Hari berganti begitu saja, tak peduli seberapa berat apa yang berada di pundak ini. Egois rupanya waktu jika kita belum begitu mengenalnya. Namun di saat kita mulai memahami segala sesuatu, akan ada masa di mana kita mampu untuk terus maju.

Ingin rasanya semua berjalan cepat, tanpa proses  yang terus mendesak. Jika aku bingung bagaimana cara berhenti, justru lebih bingung menjawab pertanyaan kenapa bisa bertahan sampai saat ini. Lelah itu sudah pasti dan hal yang aku takuti kapan saja bisa  terjadi. Rasa sedih, senang, marah, bercampur aduk setiap hari mengisi ruang hati seiring waktu berjalan tiada henti. Hal itu rupanya akan terlupa dan tak akan tersimpan secara abadi.

Akhir dari pesan di balik namaku ini, kuharap bisa terus bertahan mengikuti skenario Allah hingga bertemu ujung cerita yang belum tahu seperti apa akhirnya. Hanya harapan yang bisa kuserahkan pada-Nya sang pemilik berhati luas, di mana kita bisa bermimpi dan meminta pada-Nya tanpa batas.

 

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...
  KETIKA HATI MULAI HILANG ARAH (Nur Fadhilah K) Ada masa di mana langkah terasa ringan tapi jiwa terasa berat. Ada waktu di mana semua terlihat baik-baik saja, tapi hati terasa kosong.             Kadang hidup berjalan begitu cepat. Kita sibuk dengan rutinitas, mengejar cita-cita, dan menumpuk rencana yang seolah tak ada habisnya. Tapi di tengah semua itu, tanpa sadar kita menjauh dari sumber ketenangan sejati (Allah). Pelan-pelan, tapi pasti, hati mulai kehilangan arah.             Kita masih sering berdo’a, meminta agar jalan hidup kita dimudahkan, rezeki  kita dilancarkan, hati dikuatkan. Tapi kalau jujur, kapan terakhir kali kita benar-benar mendekat kepada Allah tanpa pamrih?, kapan terakhir kita membuka  Al-Qur’an, meresapi  ayat-ayat-Nya, atau sekadar berdzikir dengan tenang tanpa terburu-buru?. Sungguh, tekadang malu rasanya. Kita minta banyak, tapi ...