Negeriku yang Kucintai
(Cinta Febrianty Idham)
Dari
dulu, aku selalu merasa bangga karena membawa tumbler ke mana-mana. Merasa
paling hemat, paling go green, bahkan diam-diam merasa sedikit lebih
keren daripada mereka yang masih membeli minuman kemasan. Seolah-olah, dengan
membawa botol minum sendiri, aku telah mengambil bagian dalam menyelamatkan
bumi. Sampai suatu hari, sebuah video pendek menyadarkan aku bahwa bahkan
sesederhana air minum pun tidak sepenuhnya terlepas dari persoalan politik.
Dari bagaimana sumber daya dikelola, bagaimana industri dijalankan, bagaimana
sampah plastik ditangani, hingga bagaimana kebijakan lingkungan dirumuskan di
meja kekuasaan.
Ternyata,
menjadi ramah lingkungan bukan hanya soal keputusan personal untuk membawa tumbler.
Ada sistem yang lebih besar di balik apa yang kita konsumsi, apa yang kita
buang, dan lingkungan seperti apa yang akhirnya kita tinggali.
Turns out, even the simplest things in life are political.
To be honest, life has been so draining these days.
Kesibukan akhir-akhir ini membuat aku merasa perlu
keluar dari asrama, mencari udara segar, sekadar memberi jeda bagi kepala yang
terlalu penuh. Aku pikir, mungkin sedikit perjalanan akan
membantu aku merasa lebih baik. Namun, alih-alih menemukan ketenangan,
perjalanan itu justru memperlihatkan begitu banyak hal yang selama ini mungkin
terlalu biasa untuk aku abaikan terus menerus.
Destinasi
pertama aku antrean bahan bakar yang panjang. Setelahnya, kemacetan di jalanan
yang rusak, sengatan matahari di bawah langit yang terasa semakin panas, dan
jalan-jalan gersang yang kehilangan keteduhannya. Belum selesai sampai di situ,
asap dampak kebakaran dari pulau lain membuat masker menjadi sesuatu yang harus
dibawa ke mana-mana.
Lucu, bukan?
Kita hidup di negeri yang dianugerahi kekayaan
alam luar biasa, tetapi dalam keseharian, kita masih harus berhadapan dengan
persoalan lingkungan yang mengganggu. BMKG sendiri menyediakan pemantauan
konsentrasi partikulat PM2.5, sebaran asap, titik panas, dan potensi kebakaran
hutan serta lahan. Artinya, persoalan ini bukan sekadar perkara pemandangan
yang tidak indah, melainkan juga sesuatu yang perlu dipantau dan ditangani
secara serius.
Aku
tahu, tidak semua kebakaran disebabkan oleh kelalaian pemerintah. Ada faktor
cuaca, perilaku manusia, dan berbagai persoalan tata kelola yang saling
berkaitan. Namun, justru karena persoalannya kompleks, aku berharap
penanganannya tidak berhenti pada imbauan untuk memakai masker atau meminta
masyarakat menjaga lingkungan. Kita juga membutuhkan pencegahan, pengawasan,
penegakan hukum, dan kebijakan yang benar-benar bekerja. Entah sejak kapan
kekayaan alam ini berubah menjadi bencana yang mencekik.
Di
tengah perjalanan, aku menendang sebuah batu kecil di trotoar. Sebuah tindakan
sepele yang mungkin tidak berarti apa-apa, lalu membayar parkir di pinggir
jalan, berdiri di antara kendaraan yang terus berlalu, dan memandang jalanan
yang tidak kunjung terasa layak. Saat itu, aku bertanya-tanya: ke mana
sebenarnya uang yang kami bayarkan?
Aku
paham bahwa tidak semua jalan berada di bawah kewenangan pemerintah yang sama.
Ada jalan nasional, provinsi, hingga kabupaten dan kota. Aku juga tahu bahwa
pembangunan tidak selalu bisa selesai dalam semalam. Namun, memahami
keterbatasan bukan berarti harus berhenti mempertanyakan prioritas. Sebab bagi
masyarakat jalan bukan sekadar proyek pembangunan. Ia adalah akses menuju
sekolah, tempat kerja, rumah sakit, pasar, dan berbagai kesempatan untuk
menjalani kehidupan yang lebih baik. Pembangunan seharusnya terasa dalam
kehidupan sehari-hari, bukan hanya terlihat dalam laporan dan angka-angka
pencapaian.
Pada
akhirnya, aku memutuskan untuk pulang. Bukan karena telah menemukan tempat yang
lebih menenangkan, melainkan karena energiku sudah habis bahkan sebelum sampai
di tujuan.
Dalam
perjalanan pulang, aku mulai memperhatikan toko-toko kecil dan usaha UMKM milik
masyarakat di sepanjang jalan. Awalnya, aku merasa senang melihat begitu banyak
orang yang berusaha membangun kehidupan dari kemampuan mereka sendiri. Ada yang
menjual makanan, membuka kedai kecil, menawarkan jasa, atau menggantungkan
penghidupan keluarga pada usaha yang mereka rintis dengan susah payah.
Ada sesuatu yang indah dari kegigihan itu.
Namun, di tengah kekaguman tersebut, muncul pertanyaan lain: Apakah menjamurnya usaha-usaha kecil ini sepenuhnya merupakan tanda tumbuhnya ekonomi rakyat, atau justru menjadi cermin kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja?
Ketika
sektor industri belum mampu menyerap tenaga kerja secara memadai, ketika
pekerjaan formal sulit dijangkau, dan ketika kesempatan kerja tidak tumbuh
sebanding dengan jumlah angkatan kerja, masyarakat akan mencari jalan lain
untuk bertahan hidup. Sebagian membuka warung, berjualan di pinggir jalan, atau
menciptakan pekerjaan sendiri. Bukan selalu karena itulah cita-cita mereka,
melainkan karena hidup mengaruskannya menciptakan penghidupannya sendiri tidak
lain karena kesempatan kerja yang tersedia belum mampu menjangkau semua orang.
Data
Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Agustus 2025, tingkat pengangguran
terbuka Indonesia berada pada angka 4,85 persen, sementara rata-rata upah buruh
tercatat sebesar Rp3,33 juta per bulan. Angka-angka ini tentu tidak
menceritakan seluruh pengalaman setiap pekerja, tetapi cukup menjadi pengingat
bahwa persoalan pekerjaan dan penghasilan masih perlu diperhatikan.
Lalu,
aku terdiam. Menyaksikan begitu banyak persoalan yang perlahan dianggap biasa
karena kita terlalu sering mengalaminya.
Tidak
perlu mempertanyakan kecintaanku terhadap negeri ini. Hari ini, tahun 2026, aku
duduk di bangku kuliah jurusan pendidikan
yang di mana tidak ada kesejahteraan sama sekali di sini. Yang gaji 10 tahunnya
bahkan belum cukup untuk membeli rumah untuk beristirahat. Rasanya seakan-akan
berjalan menaiki kapal yang sejak awal akan ditenggelamkan. Aku sedang belajar
bagaimana mencerdaskan masa depan bangsa. Sayangnya, belum ada yang bisa
meyakinkanku bahwa masa depanku sendiri akan baik-baik saja.
Aku
membaca data, mendengar cerita para guru, menyaksikan persoalan kesejahteraan,
dan mengetahui bahwa jalan yang ku pilih tidak sama sekali menjanjikan
kehidupan yang layak. Namun, aku tetap melangkah, sebab aku telanjur mencintai
sesuatu yang bahkan belum tentu mampu menjamin masa depanku sendiri.
I love my country, but I can’t see my future here.
Bagaimana jika aku harus memilih antara menjalankan panggilan untuk
mendidik atau memenuhi kebutuhan hidupku sendiri?
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang anak-anak yang duduk di bangku sekolah. Pendidikan juga tentang orang-orang yang berdiri di depan kelas, tentang kehidupan yang mereka bangun, dan tentang sistem yang memungkinkan mereka menjalankan tanggung jawabnya dengan bermartabat.
Aku mencintaimu, Indonesia, tapi apakah aku punya masa depan di sini?
Malamnya, aku kembali ke asrama dengan kepala yang masih penuh. Aku teringat tumbler yang sejak pagi aku bawa ke mana-mana. Benda sederhana yang awalnya membuatku merasa telah melakukan sesuatu yang baik bagi bumi. Kini, aku memandangnya dengan pemahaman yang berbeda.
Aku tetap akan membawa tumbler itu. Aku tetap berusaha mengurangi sampah, menjaga lingkungan, dan melakukan hal-hal kecil yang bisa aku lakukan. Sebab, kesadaran terhadap masalah struktural bukan alasan untuk berhenti bertanggung jawab secara personal.
Namun, aku juga tidak ingin terjebak dalam ilusi bahwa semua persoalan bisa diselesaikan oleh pilihan-pilihan individu. Aku bisa membawa tumbler, tetapi aku tidak bisa sendirian membenahi tata kelola sampah. Aku bisa menggunakan masker ketika udara tercemar, tetapi aku tidak bisa sendirian menghentikan kebakaran hutan dan lahan. Aku bisa berhati-hati di jalan yang rusak, tetapi aku tidak bisa sendirian memastikan pembangunan infrastruktur berjalan dengan baik.
Ada
hal-hal yang memang menjadi tanggung jawab kita sebagai individu. Namun, ada
pula hal-hal yang menuntut tanggung jawab bersama, kebijakan yang tepat, dan
institusi yang bekerja sebagaimana mestinya.
Mungkin
itulah yang perlahan aku pahami bahwa mencintai sebuah negeri bukan berarti
harus selalu merasa bangga terhadap segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Terkadang,
mencintai berarti berani mengakui bahwa ada sesuatu yang salah. Berani bertanya
ketika kebijakan tidak masuk akal. Berani mengkritik ketika kekuasaan menjauh
dari kepentingan masyarakat. Dan berani berharap bahwa keadaan bisa menjadi
lebih baik, meskipun kenyataan hari ini sering kali membuat harapan itu terasa mustahil.
Aku
mencintai Indonesia. Aku mencintai orang-orang yang bekerja keras di dalamnya,
anak-anak yang sedang belajar mengeja masa depan, pedagang kecil yang membuka
tokonya setiap pagi, dan para pendidik yang tetap datang ke kelas meskipun
hidup mereka sendiri tidak selalu mudah. Justru karena itulah, aku tidak bisa
berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Aku tidak ingin hidup di negeri yang hanya meminta rakyatnya bersabar, sementara pertanyaan tentang tanggung jawab terus dibiarkan menggantung. Aku tidak ingin generasi muda hanya diajari untuk bermimpi tanpa diberikan kesempatan untuk mewujudkannya. Dan aku tidak ingin pendidikan hanya dipuja dalam pidato, tetapi dilupakan ketika kesejahteraan para pendidiknya dibicarakan.
To love a country should never mean turning a blind eye to its failures.
Aku ingin mencintai negeri ini tanpa harus mematikan daya kritisku. Aku ingin berkontribusi tanpa harus menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar. Aku ingin menjadi pendidik yang mengajarkan murid-muridnya untuk berpikir, bertanya, dan memperjuangkan kebenaran, tanpa harus takut bahwa suatu hari nanti mereka akan menemukan kenyataan bahwa suara mereka tidak pernah benar-benar didengar.
Dan, yang paling sederhana, aku ingin memiliki masa depan di tempat yang aku sebut rumah.
Apakah itu permintaan yang terlalu besar?
Aku tidak tahu.

Komentar
Posting Komentar