Langsung ke konten utama

Sebelum Benar-benar Jauh


(Cahyu Cahyani)



    Belakangan ini mulai mengerti, ternyata terlalu dangkal apabila seluruh perjalanan bertumbuh ini hanya dimaknai sebagai persiapan untuk menjadi seseorang bagi orang lain di masa depan. Sebab semakin banyak yang dilewati, semakin menyadari bahwa sebelum menjadi apapun bagi siapapun, ada satu kehidupan yang terlebih dahulu perlu untuk dipahami, dirawat, dan dipertanggungjawabkan dengan sungguh-sungguh: hidupku sendiri.

    Ajaibnya, usia mengajariku sesuatu yang tidak pernah benar-benar diajarkan di bangku mana pun. Tentang hal-hal yang hanya bisa dipahami dan diterima, tentang keputusan yang lahir dari ego, tentang sikap baru yang baru disadari setelah melukai.

    Mungkin karena itu, aku ingin terus belajar, bukan untuk menjadi paling hebat atau terlihat paling baik. tetapi agar ketika Tuhan melihat hidup yang ia titipkan, aku tidak datang dengan tangan kosong, dan hati yang enggan dibentuk.

    Dan jika suatu hari semua yang ku pelajari akhirnya memampukanku menjalani peran sebagai seorang perempuan yang mampu mengasihi tanpa kehilangan dirinya, mendidik tanpa merasa paling tahu, menemani tanpa harus menyelamatkan, menguatkan tanpa lupa bahwa dirinya juga manusia.

    Biarlah menjadi konsekuensi indah dari hati yang terus dibentuk, bukan tujuan yang sejak awal ku kejar. Sebab kini kupercaya, bertumbuh bukan tentang menjadi lebih di mata siapapun, melainkan tentang menjadi jujur pada diri sendiri, tetap lembut dalam proses, dan tetap berserah diri pada Tuhan yang dengan perlahan membentuk tanpa pernah terburu-buru.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...
  KETIKA HATI MULAI HILANG ARAH (Nur Fadhilah K) Ada masa di mana langkah terasa ringan tapi jiwa terasa berat. Ada waktu di mana semua terlihat baik-baik saja, tapi hati terasa kosong.             Kadang hidup berjalan begitu cepat. Kita sibuk dengan rutinitas, mengejar cita-cita, dan menumpuk rencana yang seolah tak ada habisnya. Tapi di tengah semua itu, tanpa sadar kita menjauh dari sumber ketenangan sejati (Allah). Pelan-pelan, tapi pasti, hati mulai kehilangan arah.             Kita masih sering berdo’a, meminta agar jalan hidup kita dimudahkan, rezeki  kita dilancarkan, hati dikuatkan. Tapi kalau jujur, kapan terakhir kali kita benar-benar mendekat kepada Allah tanpa pamrih?, kapan terakhir kita membuka  Al-Qur’an, meresapi  ayat-ayat-Nya, atau sekadar berdzikir dengan tenang tanpa terburu-buru?. Sungguh, tekadang malu rasanya. Kita minta banyak, tapi ...