Sebelum Benar-benar Jauh
(Cahyu Cahyani)
Belakangan ini mulai mengerti, ternyata terlalu dangkal apabila seluruh perjalanan bertumbuh ini hanya dimaknai sebagai persiapan untuk menjadi seseorang bagi orang lain di masa depan. Sebab semakin banyak yang dilewati, semakin menyadari bahwa sebelum memnjadi apapun bagi siapapun, ada satu kehidupan yang terlebihmdahulu perlu untuk dipahami, dirawat, dan dipertanggungjawabkan dengan sungguh-sungguh: hidupku sendiri.
Ajaibnya, usia mengajariku sesuatu yang tidak pernah benar-benar diajarkan di bangku mana pun. Tentang hal-hal yang hanya bisa dipahami dan diterima, tentang keputusan yang lahir dari ego, tentang sikap baru yang baru disadari setelah melukai.
Mungkin karena itu, aku ingin terus belajar, bukan untuk menjadi paling hebat atau terlihat paling baik. tetaapi agar ketika Tuhan melihat hidup yang ia titipkan, aku tidak datang dengan tangan kosong, dan hati yang enggan dibentuk.
Dan jika suatu hari semua yang ku pelajari akhirnya memampukanku menjalani peran sebagai seorang perempuan yang mampu mengasihi tanpa kehilangan dirinya, mendidik tanpa merasa paling tahu, menemani tanpa harus menyelamatkan, menguatkan tanpa lupa bahwa dirinya juga manusia.
Biarlah menjadi konsekuensi indah dari hati yang terus dibentuk, bukan tujuan yang sejak awal ku kejar. Sebab kini kupercaya, bertumbuh bukan tentang menjadi lebih di mata siapapun, melainkan tentang menjadi jujur pada diri sendiri, tetap lembut dalam proses, dan tetap berserah diri pada Tuhan yang dengan perlahan membentuk tanpa pernah terburu-buru.
Komentar
Posting Komentar