Langsung ke konten utama

 

Masih Adakah Ruang untuk Iman?

(Siti Nur Ramdania)



    Di zaman yang serba digital, rasanya ruang hidup telah dipenuhi dengan berbagai macam informasi dan notifikasi yang datang dari segala arah. Gadget bukan lagi sesuatu yang asing bagi kita, ia dapat ditemukan diberbagai tempat dan memudakan banyak hal, mulai dari komunikasi, pekerjaan, hingga menjadi tempat mencari hiburan. Semua bisa terakses lewat benda yang hampir selalu berada dalam genggaman: smartphone. Di era seperti ini, tantangan kita tidak hanya datang dari dunia luar, tetapi “Apa yang kita izinkan masuk dalam hati?”

    Dulu, kita memiliki banyak waktu untuk bermulazamah dengan Al-Qur’an. Sekarang, posisi Al-Qur’an telah tergantikan oleh smartphone. Beragam konten yang terakses terasa lebih menarik dibandingkan berkomunikasi dengan Allah melalui ayat-ayat-Nya. Setiap hari, tanpa sadar kita membuka layar begitu lama. Satu demi satu konten kita konsumsi, yang perlahan menjauhkan hati dari Allah. Kita membiarkan diri hanyut di dalamnya, waktu berlalu begitu saja, mata yang selalu menatap layar, sementara hati semakin lelah dan kosong. Scroll yang awalnya hanya “sebentar” berubah menjadi jam-jam yang hilang. Bukan hanya waktu yang terbuang, tetapi juga kejernihan hati. Tanpa disadari, apa yang kita lihat membentuk apa yang kita rasakan, dan apa yang kita rasakan membentuk siapa diri kita.

    Jadi perlu untuk kita ketahui, iman tidak menuntut kita hidup terputus dari zaman, tetapi kehadirannya mengajarkan kita untuk hadir dengan kesadaran, bahwa setiap hati perlu sebuah iman, agar ketenangan tetap hadir bersamanya. Di tengah notifikasi yang tak pernah berhenti, iman senantiasa hadir tapi sering kita abaikan, ia membutuhkan ruang meski hanya dalam waktu singkat di antara kesibukan. Dalam lantunan doa, dalam pandangan yang dijaga, dalam keputusan kecil untuk berhenti sejenak dan mengingat Allah.

    Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya lepas dari layar, tetapi kita masih bisa memilih apa yang kita izinkan menetap di hati. Karena iman tidak menuntut hidup yang sempurna, ia hanya meminta kesadaran bahwa di balik segala kesibukan dunia, kita masih tahu ke mana harus kembali. Dan selama hati masih gelisah ketika jauh dari-Nya, selama itu pula ruang untuk iman masih ada. Tinggal apakah kita mau menjaganya, atau membiarkannya tertutup oleh kesibukan yang tak pernah benar-benar memberi kita ketenangan.

Komentar

  1. MasyaAllah barakallahu fik 💗

    BalasHapus
  2. Maa sya allah ❤️

    BalasHapus
  3. Maa sya Allah, menyentuh isinya
    Barakallahu fiik 💫

    BalasHapus
  4. MasyaAllah, terima kasih sudah di ingatkan lewat tulisan kecil yang bermakna besar🤍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...