Langsung ke konten utama

Arti Hidup


 Arti Hidup

Hidup itu dipenuhi keberimbangan. Setiap masalah yang diciptakan sepaket dengan jalan keluarnya. Seperti kebahagiaan yang diciptakan bersama kesedihan atau kekayaan yang diciptakan beserta kecukupan.

Ketimpangan yang kita temui di kehidupan kita justru pertanda bahwa ada hal yang perlu kita benahi. Semoga masih cukup bersabar dan bersyukur.
Jangan berharap jalan yang akan ditempuh ini pasti mudah, tidak akan bersisian dengan yang lain, tidak akan ada persimpangan, tidak akan bercabang. Cabang yang menyesatkanmu jauh dari tujuan.

Waktu langkah pertama kita dulu, kita sempat berbincang tentang tujuan, tentang nilai dan aturan yang akan kita bawa sepanjang jalan. Kini, sudah begitu jauh, ujungnya belum terlihat. Kita masih berjuang berdiri di atas nilai dan aturan yang telah kita sepakati. Waktu kita pernah berhenti sejenak, muncul keraguan.

Di awal kita begitu bahagia, menapaki langkah-langkah pertama. Kini, kita banyak diam sepanjangan perjalanan. Berpikir tentang banyak hal, tentang diri kita sendiri, tentang beratnya menyepakati nilai dengan aturan yang kita buat sendiri. Tentang teman perjalanan yang kita pilih di awal, bahkan tentang perjalanan itu sendiri. 

Tenggelam dalam pikiran dan renungan yang panjang. Sepanjang perjalanan ini, barangkali memang inilah tujuan sebenarnya, perjalanan. Saat kita mampu bertahan atas nilai dan aturan selepas ujian silih berganti. Kita tetap menjadi orang yang berkomitmen. Bahkan setelah keraguan itu muncul, kita tetap bertahan dengan komitmen. Bahkan setelah kita berdiam cukup lama, sepanjang jalan, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kita masih menempuhnya bersama-sama.

Beberapa orang bersikeras untuk menjadi yang pertama dan ada juga berharap menjadi yang terakhir. Di sini, kadang kita lupa memaknai pertama dan terakhir bahwa semuanya bergantung pada [si]apa itu diberikan. Sebab seringnya kita tidak bisa menjadi keduanya sekaligus, pertama dan terakhir.

Selama ini kita memohon kepada Allah tentang kejelasan masa depan, ketenangan dalam memilih, dan sebagainya.

Jangan-jangan selama ini kitalah yang justru menolaknya ketika Allah memberi jawaban atas doa kita. Hanya karena kita yang terlalu keras kepala, tidak bersedia berkomitmen, tidak mau ambil resiko, tidak mau jalani konsekuensinya. Allah sudah memberi isyarat, tapi kita menolaknya. Allah sudah memberi jawaban, tapi kita yang tak mau membacanya.

Kita selalu berpikir, bahwa jawaban-Nya melalui cara yang kita mau, padahal tidak demikian, kan?
Hidup itu nyata, di sinilah ujian diletakkan yang menentukan bagaimana kita nanti. Sebab di kehidupan ini pula kita dinilai. Akankah hidup ini habis hanya mengulang kesalahan serupa? sibuk membangun asumsi? khawatir memikirkan apa kata orang? sibuk mempertahankan ego? atas hal-hal yang sudah tahu itu dilarang tapi kita pura-pura tidak tahu.

Hidup ini nyata tapi berakhir, akankah kita habiskan waktunya hanya untuk diri sendiri?






Mahasiswi STIBA Makassar angkatan 2018

Komentar

  1. Maa syaa Allah...
    Baarakallahu fiikum... 🌹🌹

    BalasHapus
  2. Maa SyaaAllahh.. Baarakallahu fiikum 😘😘❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️Ummmwahhh

    BalasHapus
  3. MasyaAllah dekkeng gue bgttttt

    BalasHapus
  4. Maa syaa Allah tabarakallah..jazakillahu Khoiron🥰🤍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

 Negeriku yang Kucintai (Cinta Febrianty Idham) Dari dulu, aku selalu merasa bangga karena membawa tumbler ke mana-mana. Merasa paling hemat, paling go green , bahkan diam-diam merasa sedikit lebih keren daripada mereka yang masih membeli minuman kemasan. Seolah-olah, dengan membawa botol minum sendiri, aku telah mengambil bagian dalam menyelamatkan bumi. Sampai suatu hari, sebuah video pendek menyadarkan aku bahwa bahkan sesederhana air minum pun tidak sepenuhnya terlepas dari persoalan politik. Dari bagaimana sumber daya dikelola, bagaimana industri dijalankan, bagaimana sampah plastik ditangani, hingga bagaimana kebijakan lingkungan dirumuskan di meja kekuasaan. Ternyata, menjadi ramah lingkungan bukan hanya soal keputusan personal untuk membawa tumbler . Ada sistem yang lebih besar di balik apa yang kita konsumsi, apa yang kita buang, dan lingkungan seperti apa yang akhirnya kita tinggali. Turns out, even the simplest things in life are political. To be honest, life has b...
  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...