Kenapa Harus Aku?
(Nur Fadhilah K)
Terkadang, kita selalu bertanya, "Kenapa harus aku?", "Kenapa harus aku yang
berada di posisi ini?", "Kenapa harus aku yang mendapatkan ini?"
Sering kali, kita mengeluhkan sesuatu yang bahkan belum terjadi, tanpa
menyadari bahwa mungkin saja setelahnya ada sesuatu yang jauh lebih
indah.
وعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ، وَعَسَىٰ أَنْ
تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh
jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu." (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat di atas adalah pesan dari Sang Pemilik Kasih Sayang yang mengingatkan
kita bahwa apa yang kita sukai belum tentu baik bagi kita, begitu pula
sebaliknya. Mungkin saja Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang terbaik,
tetapi sebelum itu, Dia menguji kita dengan hal-hal yang tidak kita sukai.
Agar ketika kita akhirnya mendapatkannya, kita tidak melupakan proses yang
pernah kita lalui.
Dan, ya, aku pernah berada di posisi itu. Ketika semua yang sudah
kurencanakan tidak berjalan sesuai harapan, di situlah aku mulai bertanya,
"Kenapa harus aku?" Namun, ternyata, akhir dari rencana Tuhan jauh lebih
indah daripada apa yang pernah kurencanakan. Bahkan, sampai saat ini, aku
masih sering bertanya, "Kenapa harus aku yang berada di posisi ini? Padahal,
masih ada yang lebih pantas dariku." Namun, di situlah aku mulai meyakinkan
diriku sendiri bahwa mungkin saja orang yang pantas itu adalah aku.
Kita perlu menyadari bahwa rencana manusia tidak selalu sejalan dengan apa
yang telah Tuhan persiapkan. Mungkin akhirnya memang happy ending,
tetapi percayalah, proses menuju ke sana akan selalu meninggalkan kesan yang
tak mudah dilupakan. Tuhan memang tidak menjanjikan bahwa segala sesuatu
yang kita inginkan akan berjalan sesuai harapan. Namun, bukan berarti proses
yang kita lalui sia-sia. Bisa jadi, Tuhan ingin kita belajar lebih banyak
dari setiap perjalanan yang kita tempuh dan yang belum pernah kita pahami
sebelumnya.
Bukan berarti kita tidak boleh membuat rencana. Kita tetap perlu menyusun
rencana, berusaha, dan berdoa. Hanya saja, kita juga harus belajar menerima
bahwa hasil akhirnya tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Karena mungkin, pertanyaan "Kenapa harus aku?" bukanlah selalu tentang
mencari orang lain yang lebih pantas. Terkadang, pertanyaan itu justru
mengajak kita untuk berhenti meragukan diri sendiri dan mulai belajar
menjadi seseorang yang mampu memikul tanggung jawabnya.
Jadi, untuk diriku dan kita semua, jika suatu hari nanti pertanyaan itu
kembali muncul, semoga kita tidak langsung sibuk mencari siapa yang
seharusnya menggantikan kita. Semoga kita mau bertanya kepada diri sendiri:
"Kalau bukan karena aku sudah sempurna, setidaknya bisakah aku belajar?
Kalau bukan karena aku sudah mampu, setidaknya maukah aku mencoba? Dan kalau
hari ini aku yang dipercaya untuk menjalani semua ini, bisakah aku
memberikan diriku sendiri kesempatan untuk bertumbuh?"
Mungkin, untuk saat ini, itu sudah cukup. Kita tidak harus menjadi yang
paling hebat untuk mulai melangkah. Kita hanya perlu berhenti meyakinkan
diri sendiri bahwa kita tidak pantas, sebelum kita benar-benar mencoba. Dan
mungkin suatu hari nanti kita akan menoleh ke belakang dan tersenyum tipis,
mengingat betapa seringnya kita ragu dan bertanya, "Kenapa harus aku?"
Padahal di balik pertanyaan itu, ada banyak hal yang perlahan membentuk kita
menjadi seseorang yang lebih kuat dan lebih dewasa.
Jadi, jika hari ini kamu adalah orang yang dipilih untuk berada di posisi
itu, jangan buru-buru berharap menjadi orang lain. Barangkali, bukan
posisimu yang perlu berubah, melainkan caramu memandang dirimu sendiri.
Sebab, bisa jadi, di tempat yang sedang kamu pertanyakan itulah, kamu sedang
bertumbuh menjadi seseorang yang selama ini kamu doakan.
And from now on, love yourself and be yourself.

Komentar
Posting Komentar