Kau Sedang Tidak Berada di Jalur Pacu Kuda
(Muthi'ah Abdul Hakim)
Terkadang, takdir tidak menuntun kita pada jalan yang sejak awal paling
kita inginkan, melainkan pada jalan terbaik yang justru paling kita
butuhkan untuk bertumbuh.
Hidup bukanlah sebuah perlombaan pacu kuda, di mana siapa yang paling
cepat melesat di jalur yang seragam akan keluar sebagai pemenang mutlak.
Ada kalanya, langkah kaki dipaksa berputar arah, melewati lorong-lorong
sunyi yang awalnya sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar rencana
masa depan.
Perjalanan ini bermula dari sebuah keengganan. Jauh sebelum nama IAI
STIBA Makassar akrab dalam keseharian, kampus itu bukanlah tempat yang
ingin kutuju. STIBA sama sekali tidak pernah ada dalam daftar pilihan.
Namun, di sinilah garis takdir mulai merajut jalurnya.
Momen itu bermula ketika nama-nama siswi eligible diumumkan, dan nama
ini terpampang jelas di papan pengumuman. Pemilihan jurusan dan
universitas pun dimulai dengan harapan yang membumbung tinggi. Disusul
oleh hari-hari penuh debar saat pengumuman Seleksi Nasional Berbasis Tes(SNBT) tiba, membawa kenyataan
pahit bahwa pintu Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin tertutup
rapat.
Esok harinya, seragam yang elok dan indah dikenakan untuk menghadiri
wisuda SMA, diiringi sisa-sisa air mata dan pundak yang terasa berat
memikul rasa gagal. Namun, asa belum padam. Langkah dipaksa bangkit
untuk mengikuti persiapan UTBK, menggenggam harapan besar agar bisa
lolos ke Kedokteran Unhas melalui jalur tersebut. Sayangnya, takdir
berkata lain. Penolakan kembali menyapa. Sempat terbesit keinginan
diam-diam untuk mendaftarkan diri ke Universitas Tadulako di Palu.
Keinginan itu pun terwujud hingga diri ini dinyatakan lulus, namun restu
Abi menahan langkah tersebut. Jarak yang jauh dan ketiadaan sanak
saudara di perantauan, terlebih sebagai seorang anak perempuan, membuat
pintu itu harus ditutup.
Pilihan pun menyempit pada kenyataan. Melalui ultimatum dari Abi, beliau
menetapkan bahwa jika bukan kedokteran Unhas, maka pilihannya hanya di
STIBA.
Sempat ada keinginan melirik Fakultas Teknik Kesehatan jurusan Farmasi
atau Teknik Lab Klinis, mengingat ustazah pembimbing sewaktu SMA pernah
mengatakan bahwa peluang lulus lewat jalur Seleksi Prestasi Akademik
Nasional(SPAN) sangat tinggi. Namun, Abi kembali menolak.
Setelah melalui pergulatan batin, pertimbangan panjang, dan istikharah
yang melelahkan, dengan berat hati, kaki ini akhirnya berpijak di STIBA
sebagai seorang mahasiswi. Saking enggannya, bahkan alas tidur pun tidak
dibawa serta ke asrama.
Masa-masa menjadi mahasiswi persiapan bahasa adalah lembaran perjuangan
yang dibasahi peluh keringat. Hari-hari dimulai sejak pagi hingga sore
tanpa henti, ditambah jadwal taklim malam yang padat, tumpukan tugas
yang menggunung, serta keharusan beradaptasi penuh menggunakan bahasa
Arab dari detik pertama mata terbuka pada pagi hari hingga kembali
terlelap pada malam hari.
Ada masa-masa yang begitu berat, terutama saat menghadapi mata kuliah
Maharah dengan buku pegangan Al-Arabiyah linnasyi’in, sebuah mata kuliah
yang muttafaq alaiha sebagai mata kuliah yang menguras tenaga, mata
kuliah ini diakui semua mahasiswi sebagai ujian yang menguras tenaga dan
pikiran. Mata kuliah inilah yang sering memaksa terjaga hingga larut
malam, berselancar di antara dua kamus tebal bersama teman sekelas
sekaligus teman sekamar, Kak Dhila, bahkan sampai membuat beliau
mimisan.
Ada pula momen meminjam ponsel kating, Kak Rosna, atau meminta izin
kepada ketua kamar, Roisah Linda, demi menonton video penjelasan dari
ustaz di YouTube dan mencatat setiap detiknya ke dalam buku. Perjalanan
inilah yang membuat kami tidak akan pernah melupakan dosen pengampu mata
kuliah ini, ustadzah Niswah tercinta, semoga Allah senantiasa menjaga
dan melimpahkan kebaikan kepada beliau.
Oleh karena itu, sangat keliru jika ada pandangan yang menyebut bahwa
kecerdasan ini datang begitu saja secara alami. Mereka yang berkata
demikian hanya melihat sesaat ketika mata terpejam menahan lelah di
dalam kelas sebelum ustadzah datang, tanpa pernah mengetahui badai
perjuangan dan malam-malam panjang yang dihabiskan untuk memahami
materi.
Selama dua semester itu, proses dijalani bukan dengan ogah-ogahan atau
keterpaksaan. Semuanya dikerjakan sebaik dan semaksimal mungkin, hingga
pada suatu titik, kesibukan itu membuat diri ini sempat lupa pada alasan
awal kedatangan dan cita-cita lama. Hingga akhirnya, di luar perkiraan
siapa pun, setelah setahun berdarah-darah di persiapan bahasa, sebuah
keputusan besar diambil: tidak langsung melanjutkan ke jenjang S-1. Keputusan mengambil cuti bukan semata-mata ambisi pribadi untuk merajut
mimpi yang sempat redup, melainkan juga sebuah bentuk bakti diri untuk
membuktikan kepada orang tua bahwa perjuangan belum usai, demi menjawab
harapan besar mereka.
Hari-hari dipenuhi perpindahan dari satu tempat les ke les lainnya, dari
bimbingan offline hingga online. Di fase ini, kesedihan kerap menyapa
ketika melihat teman-teman seangkatan sudah sibuk dengan perkuliahan
mereka, sementara diri ini masih berdarah-darah merangkak kembali ke
gerbang impian masa lalu.
Ketakutan terbesar bukanlah sekadar takut gagal bagi diri sendiri,
melainkan rasa takut yang mencengkeram, takut kembali mengecewakan kedua
orang tua.
"Bagaimana jika aku kembali gagal setelah segala pengorbanan ini?"
"Bagaimana jika setahun penuh ini hanya membawaku pada kegagalan yang
sama?"
Terkadang, perjuangan kita tidak selalu berbuah manis. Ada kalanya
langkah terhenti bukan karena lelah, melainkan karena semesta atas
izin-Nya meminta kita menepi dan membaca ulang arah.
Dan benar, terkadang perjuangan tidak selalu berbuah manis. Hari
pengumuman pun tiba, dan kenyataan menampar telak. Setahun pengorbanan
ternyata hanya mengantarkan kembali pada rasa gagal yang serupa:
tertolak dari kedokteran di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Di ruang-ruang perenungan yang sunyi, kesadaran itu datang merayap. Di
sinilah kepasrahan kepada Allah terpatri utuh. Manusia bukanlah apa-apa.
Sejauh dan sekuat apa pun usaha dikerahkan, jika takdir Allah tidak
menggariskannya untuk kita, maka kisah itu tidak akan pernah tercipta.
Mungkin banyak yang bertanya kenapa kedua orang tua kami, terutama Abi
kami ,bersikeras untuk memasukkan kami ke jurusan kedokteran. Tujuan
orang tua, terutama Abi, menginginkan kelolosan ke jurusan kedokteran
bukanlah semata-mata mencari kesuksesan duniawi. Abi memiliki semangat
juang agar setiap anaknya kelak dapat bermanfaat seluas-luasnya bagi
umat, merasakan secara langsung bagaimana seorang dokter begitu
dibutuhkan oleh masyarakat, serta menjadikan pengorbanan itu sebagai
ladang pahala kelak ketika jasad beliau tak lagi membersamai dunia.
Sebelum pembayaran dilakukan dan keputusan bulat diambil untuk kembali
ke STIBA, sebuah kalimat terucap dari Abi, melembutkan hati yang karam,
"Mungkin Allah lebih menakdirkan anak Abi untuk lebih berkiprah bagi
umat dalam bidang agama. Kita sebagai manusia hanya pemilik ikhtiar,
tapi Allah Pemilik segala takdir."
Meskipun Abi sempat menawarkan berbagai universitas lain dengan jurusan
kedokteran atau farmasi, jawaban itu meluncur dengan nada lemah, "Abi,
jauh sebelum saya mengiyakan untuk mencoba kembali masuk ke Kedokteran
Unhas, saya sudah bertekad pada diri sendiri bahwa ini adalah
pengorbanan dan perjuangan terakhir saya. Kalau memang Allah tetap tidak
menakdirkan cita-cita menjadi dokter tercapai, maka saya akan kembali
menuntaskan apa yang pernah saya mulai." Dunia tidak akan berhenti
berputar hanya karena hancur berantakan. Dengan langkah yang
terseok-seok, keputusan diambil untuk bangkit kesekian kalinya.
Langkah kaki kembali dipijakan di STIBA, membawa serta sisa rasa gagal
yang dahulu pernah ada. Balik haluan diambil, melanjutkan apa yang
semestinya diselesaikan, berdampingan dengan teman-teman yang kini telah
berada dua semester di atas diri ini.
Terlebih ketika kabar bahagia dari teman-teman SMA datang silih
berganti. Mereka telah menyelesaikan jenjang S-1, sementara diri ini kala
itu masih tertahan di semester 4. Ada kalanya, rasa sedih dan tertinggal
itu menyayat hati. Namun, di balik itu semua, keyakinan tetap berusaha
dipegang erat. Takdir Allah tidak selamanya tampak indah bagi kita,
tetapi segala yang Allah takdirkan untuk kita selalu menyimpan kebaikan
yang berlimpah ruah.
Terakhir dari semua kalimat yang tertoreh ini, diri ini ingin
mengutarakan segala puji kepada Tuhan semesta alam atas segala takdir
baik yang tertoreh, betapapun berat rasanya untuk diterima. Terima kasih
yang tak terhingga atas segala kasih yang Ummi dan Abi curahkan.
Keduanya rela memberikan yang terbaik, tak jenuh menyebut nama ini dalam
harapan-harapan baik yang keduanya langitkan kepada Sang Maha Pendengar
Segalanya.
Maafkan anakmu ini, Ummi, Abi. Maaf jika di usia sekarang belum mampu
memberikan kegembiraan, masih jauh dari kata anak yang membanggakan.
Maaf jika kabar gembira dan membanggakan lebih sering kau dengar bukan
karena anakmu. Maaf ketika anak seusia ini telah menghasilkan sesuatu,
aku justru hanya menghabiskan sesuatu itu.
Namun, di tengah segala hal yang belum bisa dibanggakan, semoga kasih
dan doa tulus dari Ummi dan Abi senantiasa memeluk diri ini. Tanpa itu,
raga ini pasti mati kedinginan oleh kejamnya tuntutan dunia.
Ummi, Abi, semoga di waktu yang dekat ini, kami dapat menjadi sebab
senyum kalian merekah, menjadi sebab kalimat syukur terucap dari bibir
kalian, dan menjadi sebab terwujudnya segala harapan kalian. Dan semoga
kelak di akhirat, kami dapat menjadi kebanggaan yang menyambut kalian.
Ya Allah, aku merayu-Mu dengan segala keindahan dan keagungan asma wa
sifat-Mu, limpahkanlah segala kebaikan dan hal-hal indah kepada kedua
orang tua kami, yang selalu memberikan hal terbaik dalam hidup ini.
Jika saat ini mimpimu sedang dipaksa berbelok arah, jangan lekas
menyerah. Barangkali, Allah sedang menyelamatkanmu dari jalan yang salah
dan menuntunmu ke tempat terbaik yang paling Dia ridai dan indah.
Tetaplah berjalan, karena jatah bahagia dan takdir indahmu sedang
disiapkan pada waktu yang paling tepat.

Komentar
Posting Komentar