Saat Kamu Tak Bersama Tuhan
Di satu detik yang tak pernah terduga, seolah ada sentuhan lembut
menyetuh jiwaku.
"Jauh banget...."
Saat itu, aku
tersadar bahwa jejak langkahku sudah sangat jauh dari-Mu. Langit biru yang
kupandang seolah sedang memperlihatkan jejak-jejak langkahku yang perlahan membawaku
semakin jauh dari dekapan-Mu.
Wahai Tuhan, jiwaku
merindukan-Mu
Aku menoleh ke
belakang, seolah waktu memutar kembali episode kemarin. Saat aku duduk sambil mengadukan semua rasa lelah
hari itu. Saat aku mengangkat tangan, meminta bantuan untuk hari-hari berat
yang baru saja kulewati. Saat aku menangis terpuruk, lalu Engkau memberikan
sentuhan lembut untuk menenangkan jiwaku yang sedang runtuh. Aku tersenyum. Ternyata,
aku pernah berada di episode itu. Aku merindukan semua masa-masa itu. Rindu
berbincang berdua di malam kelabu yang tenang. Rindu meminta uang di waktu duha
meski hanya 2 rakaat yang selalu kulakukan luntang-luntang.
Lucu, ya..
Dan sekarang, rasanya aku tersesat. Seluruh rambu-rambu kehidupan seolah
membawaku ke tempat yang selalu membuatku merasa baik-baik saja. Dan bodohnya
lagi, aku malah merasa nyaman. Padahal, hatiku sering kali gelisah, tetapi
kegelisahan itu justru kuabaikan
Apa ini bagian dari lauh mahfuzku?
Rasanya terlalu kejam. Pada saat aku mulai menjauh
dari-Mu, di waktu yang bersamaan,pertengkaranku dengan ayah juga terjadi.
Kenapa harus di satu waktu itu?
Ya Allah...
Aku yakin Engkau melihat segalanya. Melihatku
tertawa dengan hati yang runtuh, seolah tak sanggup untuk kususun menjadi utuh.
Melihatku tersenyum bahagia di hadapan orang-orang, tetapi menangis tanpa suara
di balik bantal. Saat itu, rasanya aku ingin berteriak dan pulang. Tapi
pikiranku menjawab, "Pulang ke mana?"
Aku hanya terdiam, setiap hari bibirku tanpa
sengaja mengatakan ingin pulang. Tetapi pikiranku memberi jawaban yang sama, ”Ya
sudah, semua akan berlalu. Hanya menunggu waktu.”
Waktu seolah memberi jeda agar aku kembali fokus
untuk bahagia. Namun, tiap kali kudengar seseorang saling berbicara dengan
ayahnya di balik panggilan suara. Rasanya tangisan itu kembali lagi, sesak itu
seolah menyapa lagi. semua tangisan dan amarahku kembali berputar di pikiranku.
"Tenanglah....."
Lagi-lagi aku memilih tersenyum, Lagi-lagi aku
memilih untuk tertawa lepas. Dan, ya, itu ampuh."Segini doang, bisa
kok", ucapku. Padahal, rasa sesak itu masih ada. Luka itu kembali terbuka.
Tangisan itu kembali terdengar. Aku kembali kesepian. Tapi, aku tetap tersenyum
agar orang-orang tak terganggu dengan keadaanku, tak semua orang harus terluka
hanya karena aku sedang terluka. Dan ketika bersama teman-teman, aku sering
kali keluar dari zona kesepian.
Hingga satu titik temu aku dan takdirku. Aku
menemukan kembali memori masa-masa bersama-Mu, Tuhan. Jiwaku seperti di tahan
oleh sesuatu, seolah panggilan-Mu berbisik lembut. Sejak saat itu, aku berusaha
kembali bangun di malam-malam yang tenang. Aku berusaha mengambil wudu di waktu
pagi untuk duha.
Duhai Tuhan yang Maha Agung. Bantu aku kembali padamu, masih
bolehkan?
Pada akhirnya, aku kembali menyusun
kepingan-kepingan yang sempat runtuh. Mungkin belum sepenuhnya utuh, tapi aku
tidak lagi terlalu merasa terpuruk. Setidaknya aku merasa jauh lebih baik
setelah kembali dalam dekapan hangat-Mu.
Setiap manusia punya bagian tersendiri bersama
takdirnya. Bahagia, tawa, senyum, lelah, marah, dan tangis adalah bagian dari
perjalanan hidup. Semuanya akan datang dan menyapa, terkadang tanpa aba-aba.
Saat semua itu terjadi, yakinlah bahwa Allah
selalu ada. Memang tak terlihat, tetapi kehadiran-Nya dapat dirasakan dalam
setiap langkah dan jiwa. Jangan pernah ragu untuk kembali ke dalam pelukan-Nya.
Sebab, Allah tak pernah mengecewakan hamba yang terus berharap dan berserah
kepada-Nya.

Komentar
Posting Komentar