Langsung ke konten utama

 Saat Kamu Tak Bersama Tuhan

(Lisa Syafina)
       


 

Di satu detik yang tak pernah terduga, seolah ada sentuhan lembut menyetuh jiwaku.

 "Jauh banget...."

Saat itu, aku tersadar bahwa jejak langkahku sudah sangat jauh dari-Mu. Langit biru yang kupandang seolah sedang memperlihatkan jejak-jejak langkahku yang perlahan membawaku semakin jauh dari dekapan-Mu.

Wahai Tuhan, jiwaku merindukan-Mu

Aku menoleh ke belakang, seolah waktu memutar kembali episode kemarin. Saat aku duduk sambil mengadukan semua rasa lelah hari itu. Saat aku mengangkat tangan, meminta bantuan untuk hari-hari berat yang baru saja kulewati. Saat aku menangis terpuruk, lalu Engkau memberikan sentuhan lembut untuk menenangkan jiwaku yang sedang runtuh. Aku tersenyum. Ternyata, aku pernah berada di episode itu. Aku merindukan semua masa-masa itu. Rindu berbincang berdua di malam kelabu yang tenang. Rindu meminta uang di waktu duha meski hanya 2 rakaat yang selalu kulakukan luntang-luntang.

Lucu, ya..

Dan sekarang, rasanya aku tersesat.  Seluruh rambu-rambu kehidupan seolah membawaku ke tempat yang selalu membuatku merasa baik-baik saja. Dan bodohnya lagi, aku malah merasa nyaman. Padahal, hatiku sering kali gelisah, tetapi kegelisahan itu justru kuabaikan

Apa ini bagian dari lauh mahfuzku?

Rasanya terlalu kejam. Pada saat aku mulai menjauh dari-Mu, di waktu yang bersamaan,pertengkaranku dengan ayah juga terjadi. Kenapa harus di satu waktu itu?

Ya Allah...

Aku yakin Engkau melihat segalanya. Melihatku tertawa dengan hati yang runtuh, seolah tak sanggup untuk kususun menjadi utuh. Melihatku tersenyum bahagia di hadapan orang-orang, tetapi menangis tanpa suara di balik bantal. Saat itu, rasanya aku ingin berteriak dan pulang. Tapi pikiranku menjawab, "Pulang ke mana?"

Aku hanya terdiam, setiap hari bibirku tanpa sengaja mengatakan ingin pulang. Tetapi pikiranku memberi jawaban yang sama, ”Ya sudah, semua akan berlalu. Hanya menunggu waktu.”

Waktu seolah memberi jeda agar aku kembali fokus untuk bahagia. Namun, tiap kali kudengar seseorang saling berbicara dengan ayahnya di balik panggilan suara. Rasanya tangisan itu kembali lagi, sesak itu seolah menyapa lagi. semua tangisan dan amarahku kembali berputar di pikiranku.

"Tenanglah....."

Lagi-lagi aku memilih tersenyum, Lagi-lagi aku memilih untuk tertawa lepas. Dan, ya, itu ampuh."Segini doang, bisa kok", ucapku. Padahal, rasa sesak itu masih ada. Luka itu kembali terbuka. Tangisan itu kembali terdengar. Aku kembali kesepian. Tapi, aku tetap tersenyum agar orang-orang tak terganggu dengan keadaanku, tak semua orang harus terluka hanya karena aku sedang terluka. Dan ketika bersama teman-teman, aku sering kali keluar dari zona kesepian.

Hingga satu titik temu aku dan takdirku. Aku menemukan kembali memori masa-masa bersama-Mu, Tuhan. Jiwaku seperti di tahan oleh sesuatu, seolah panggilan-Mu berbisik lembut. Sejak saat itu, aku berusaha kembali bangun di malam-malam yang tenang. Aku berusaha mengambil wudu di waktu pagi untuk duha.

Duhai Tuhan yang Maha Agung. Bantu aku kembali padamu, masih bolehkan?

Pada akhirnya, aku kembali menyusun kepingan-kepingan yang sempat runtuh. Mungkin belum sepenuhnya utuh, tapi aku tidak lagi terlalu merasa terpuruk. Setidaknya aku merasa jauh lebih baik setelah kembali dalam dekapan hangat-Mu.

Setiap manusia punya bagian tersendiri bersama takdirnya. Bahagia, tawa, senyum, lelah, marah, dan tangis adalah bagian dari perjalanan hidup. Semuanya akan datang dan menyapa, terkadang tanpa aba-aba.

Saat semua itu terjadi, yakinlah bahwa Allah selalu ada. Memang tak terlihat, tetapi kehadiran-Nya dapat dirasakan dalam setiap langkah dan jiwa. Jangan pernah ragu untuk kembali ke dalam pelukan-Nya. Sebab, Allah tak pernah mengecewakan hamba yang terus berharap dan berserah kepada-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...
  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Di Ambang Ayal (Zahra Zahirah)      Dinamika pertemanan tak jarang berkelindan antara idealisme dan realitasnya. Kita kerap menjatuhkan harap pada hubungan yang diyakini akan bertahan lama. Hingga percikan api yang tercipta tanpa aba menghanguskan ikatan itu. Kecewa, sedih, hingga rindu yang tidak bisa diungkapkan mengiringi hari-hari setelahnya.      Di sepanjang perjalanan tiap laku hidup yang kumaknai, aku memahami bahwa pertemanan menuntut apa yang kerap kita sebut relasi timbal balik. Namun kini, timbul pertanyaan, akhir seperti apa yang sebenarnya kita harapkan dari sebuah pertemanan?      Ketika pondasi yang kau pilih adalah karena Allah, upaya saling memperbaiki tak berhenti pada kata lelah. Aku takkan melepasmu tenggelam dalam kubangan khilaf, sebagaimana aku pun menuntutmu untuk tidak diam disaat aku terjatuh dinoda kebaikan dan memberiku uluran tangan tuk kembali.      Ketika pondasi yang kau pilih adalah karena Alla...