Langsung ke konten utama

MENAPAKI LELAH TANPA HENTI

(Wulan Ardina)

    Setiap langkah ini, ada harapan-harapan orang tua di dalamnya, yang diam-diam mereka titipkan lewat doa-doa panjang di setiap sujudnya. Langkah ini bukan sekadar perjalanan, tapi juga perjuangan—untuk membalas lelah yang tak pernah mereka keluhkan, untuk menjawab kepercayaan yang mereka berikan tanpa ragu.


    Kadang terasa berat, kadang ingin berhenti sejenak, namun mengingat wajah mereka, semua kembali menguatkan. Karena di ujung langkah ini, bukan hanya tentang keberhasilan, tetapi tentang membuat mereka tersenyum bangga—dan berkata dalam hati, “perjuangan kita tidak sia-sia.”


Lihatlah...

Banyak orang di luar sana yang membutuhkan doa itu, tetapi pemilik doa tersebut telah lama pergi. Banyak pula orang yang ingin berada di posisimu, namun mereka tpmemiliki keterbatasan yang tak mampu mereka hadapi…


Lihatlah…

Mereka memiliki keinginan setinggi langit, tidak sepertimu yang terkadang hanya berhenti pada langkah kecil, lalu jatuh dan menyerah.


Melangkah lah…

Meski langkah kaki itu terasa berat, karena tidak semua langkah kaki memiliki kesempatan untuk terus berjalan. Ada yang terhenti oleh keadaan, ada yang terhenti oleh kehilangan, dan ada pula yang bahkan tak pernah sempat melangkah sejauh dirimu.


Maka lanjutkan…

Meski perlahan, meski tertatih,

sebab setiap langkahmu hari ini adalah harapan

yang mungkin tak lagi dimiliki oleh orang lain.


لا يكلف الله نفساً إلا وسعها


    Semua orang mampu, tapi tidak semua orang bisa istiqomah terhadap tujuannya. Banyak yang mereka ingin dicapai, tapi hanya sebatas “INGIN” Tanpa usaha yang benar-benar diperjuangkan, tanpa konsistensi yang terus dijaga dalam diam.


    Keinginan itu mudah diucapkan, namun mempertahankannya di tengah lelah, ragu, dan godaan untuk berhenti—itulah yang sulit. Banyak yang memulai dengan semangat, namun hanya sedikit yang bertahan sampai akhir. Maka jadilah yang sedikit itu…


Yang tetap berjalan meski pelan,

Yang tetap berjuang meski tak selalu terlihat, dan yang tetap istiqomah meski tak ada yang memuji.


Karena pada akhirnya,

Bukan tentang siapa yang paling cepat,

Tetapi siapa yang paling mampu bertahan hingga tujuan itu benar-benar tercapai. Banyak pengalaman bisa sampai di tahap ini, tentu backingannya adalah Allah, Ada banyak air mata sebelumnya, ada banyak dorongan untuk menghadapi pahitnya hidup di akhir zaman ini.


Teruslah berjuang,

Sampai Allah berkata “Waktunya Pulang”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...