Langsung ke konten utama

Melangkah dengan Tenang 

(Patrina Sari)


    Kita sering kali lelah bukan karena jalurnya yang menanjak, melainkan karena mata kita yang terlalu sering menengok ke kanan dan ke kiri. Melihat si A yang sudah menggenggam pencapaian ini, atau si B yang tampaknya begitu mulus melenggang ke gerbang kesuksesan yang megah. 


    Tanpa sadar, kita menjadikan hidup orang lain sebagai barometer mutlak, lalu menghukum diri sendiri dengan kalimat, "Kenapa aku belum sampai di sana?". Lelah sekali memang jika standar kesuksesanmu orang lain.


    Kita dipaksa berlari di lintasan yang bukan milik kita, mengenakan sepatu yang ukurannya salah, demi mengejar garis finish yang sejatinya tidak pernah benar-benar kita inginkan. Membandingkan proses kita dengan hasil akhir orang lain adalah cara paling kejam untuk meremehkan perjuangan diri sendiri.


    Maka, katakan pada hatimu yang mulai sesak itu: "cukup." Berhentilah menoleh hanya untuk merasa kecil. Garis finish orang lain biarkan mengajarkan makna kesabaran. 


    Melihat mereka sampai lebih dulu bukan tanda bahwa kita gagal, melainkan pengingat bahwa setiap doa dan ikhtiar selalu butuh waktu untuk mekar. Menanti waktu yang tepat, karena yang jadi milikmu akan tetap ditakdirkan untukmu.


    Tidak akan ada yang tertukar, dan tidak akan ada yang salah alamat. Tugas kita bukanlah mengungguli siapa pun, melainkan menjaga langkah agar tidak berhenti.  Jadi, terus melangkah saja hingga kamu juga sampai di garis finish. Tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan perlahan. Percaya deh. Skenario Allah itu selalu terbaik.


    Di ujung jalan nanti, kita akan paham mengapa kita harus melewati belokan yang ini, mengapa kita harus menunggu selama ini, dan mengapa skenario-Nya jauh lebih indah dari apa yang kita susun sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...