Seni Berpura-pura Baik
(Patrina Sari)
Ada satu momen yang sering kita alami, namun jarang kita bicarakan: saat kita harus berdiri di depan orang banyak, melempar senyum paling simetris, dan menjawab "Aku baik-baik saja" dengan nada yang sangat meyakinkan.
Di dunia luar, kita adalah sosok yang manifes secara fungsional. Kita adalah mahasiswa yang tetap merawat mimpi, anak yang selalu tampak kuat tanpa celah, dan teman yang masih bisa menghadirkan tawa.
Namun, di balik layar yang tertata rapi itu, ada sebuah proses yang melelahkan. Rupanya, berpura-pura baik itu tak semudah yang dibayangkan. Ia memerlukan energi besar untuk menahan gemuruh di kepala agar tidak meluap keluar menjadi air mata atau keluhan yang panjang.
Belakangan ini, kepala sering kali tidak berada di tempat tubuh berada. Saat duduk menghadap laptop untuk mengerjakan tugas dan skripsi, pikiran kita justru "terbang" melampaui batas waktu. Seolah mengajak berdialog dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bertepi: Bagaimana jika nanti kita sudah lulus? Ke mana kita harus membawa ijazah ini setelahnya? Apakah kita akan survive di dunia kerja yang penuh tantangan?
Kecemasan itu makin tajam saat kita mengingat wajah kedua orang tua. Ada dialog sunyi yang berputar sendiri di otak: Sudahkah kita menjadi anak yang berbakti? Apakah kita sudah merawat mereka dengan baik di masa tuanya? Bagaimana jika kesuksesan kita datang terlambat, saat mereka sudah terlalu lelah untuk menyaksikannya? Belum lagi pertanyaan, "kapan menikah?" yang seolah tak pernah absen dari daftar pertanyaan.
Rupanya, semakin dewasa, "angin" rintangan yang menerpa bukan lagi tentang hal-hal fisik, melainkan tentang ketidakpastian. Melihat teman-teman yang satu per satu mulai menghilang dari jangkauan, sibuk dengan jalan hidupnya masing-masing, atau mungkin mereka juga sedang sama-sama sibuk memakai topeng "baik-baik saja" versinya sendiri.
Maka mari menepi sejenak untuk merangkai dan mengambil butiran hikmah dari kepura-puraan yang melelahkan ini.
Belajar dari seni berpura-pura baik..
Bahwa kerumitan yang kita rasakan di dalam kepala adalah tanda bahwa kita sedang peduli pada masa depan. Rasa takut dan cemas adalah bukti bahwa kita sedang berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai.
Belajar dari seni berpura-pura baik..
Bahwa tak apa jika saat ini kita belum memiliki semua jawaban atas "kapan?" dan "bagaimana?". Karena semua pertanyaan tidak harus segera menemukan jawabannya.
Belajar dari seni berpura-pura baik..
Bahwa lingkaran pertemanan yang mengecil bukanlah sebuah kehilangan, melainkan proses seleksi alam agar kita bisa lebih fokus pada perjalanan yang sedang kita tempuh.
Belajar dari seni berpura-pura baik..
Bahwa tidak ada proses yang sia-sia. Nikmati, nikmati, dan nikmati.
Untuk yang sedang berproses di tengah ketidakpastian, nikmatilah setiap detiknya hingga kita bertemu pada satu titik di mana beban itu benar-benar hilang, digantikan dengan rasa syukur yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
~ Patrina Sari
Komentar
Posting Komentar