Langsung ke konten utama

 Ujian Komprehensif: Saat Kenangan Desa Bertabrakan dengan Tumpukan Muqarrar

(Patrina Sari)



    Mendengar kata "Ujian Komprehensif" saja rasanya sudah cukup untuk membuat pundak terasa berat. Apalagi ketika jadwalnya dipatok tepat sepekan setelah kita mengemas barang dari lokasi KKN. Juga aroma rindu dengan suasana rumah di kampung halaman sudah sangat semerbak. Ada semacam benturan emosional di sana. Di satu sisi, jiwa kita masih tertinggal di desa, masih ingin menikmati canda tawa yang belum tuntas atau cerita-cerita yang tertahan di sela-sela proker.


    Namun, realita membawa kita untuk tidak berlama-lama larut dalam nostalgia. Sepekan adalah waktu yang sangat singkat untuk memanggil kembali ingatan yang sudah terserak selama 4 hingga 5 tahun yang lalu.


    Jujur saja, rasanya hampir mustahil. Kita perlu kembali menyelami tumpukan muqarrar saat ingatan kita masih sangat kental dengan nuansa pengabdian. Otak kita masih merekam aroma tanah pedesaan dan keramahan warga, dan kini saatnya kita kembali akrab dengan lembaran-lembaran ilmu yang pernah kita pelajari di kelas.


    Di sinilah jiwa harus segera move on. Bangkit bukan sekadar perkara membuka muqarrar, tapi tentang melawan ego dan nafsu yang terus mengajak untuk bersantai. Ini adalah perjalanan batin antara keinginan untuk terus bernostalgia atau berjuang demi masa depan.


    Memasuki hari-hari ujian, suasana berubah. Ada aliran doa dan ucapan selamat dari orang-orang tulus di sekitar. Bahkan, ada yang mempersiapkannya beserta hadiah kecil dengan selipan pesan yang sangat menyentuh:

"Semoga hari ini terasa lebih ringan dari yang kamu bayangkan. Semoga semua yang kamu sampaikan mengalir dengan baik dan penuh keberkahan. Semangat kompre-nya."


    Rasanya hangat, sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan ini tidak dilakukan sendirian. Semangat menghafal dan murojaah mulai terasa di mana-mana. Aula Aisyah yang biasanya menjadi saksi bisu kegiatan kampus, kini mulai "hidup" kembali. Sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat suci dan berbagai ilmu yang diulang-ulang dalam majelis kecil.


Ada dinamika yang unik di sana:

- Bagi teman-teman di jurusan Perbandingan Mazhab, ada 7 ujian yang menanti. Sebuah maraton intelektual yang luar biasa.

- Bagi yang di jurusan Pendidikan Bahasa Arab, ada 3 ujian dengan tingkat kesulitan dan sensasi yang tak kalah mendebarkan.


    Di balik overthinking yang tak berkesudahan, ternyata Allah selalu menyelipkan hikmah. Lihatlah wajah-wajah yang terpancar antusias ketika berhasil melewati hari pertama. Meski tak sedikit pula yang harus menahan kesedihan karena merasa belum maksimal dalam menjawab soal.


    Namun, setelah merenung kembali, ujian komprehensif ini bukan semata-mata soal siapa yang bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar. Ini jauh lebih dalam dari sekadar angka di atas kertas. Ini adalah tentang perjuangan dan pertanggungjawaban.


    Ini adalah momen untuk menunaikan amanah atas setiap ilmu yang telah kita dapatkan selama duduk di bangku kuliah. Apakah ilmu itu benar-benar menetap, atau hanya numpang lewat? Komprehensif adalah muara dari seluruh proses kita, sebuah momen muhasabah untuk melihat sejauh mana kita telah menghargai kesempatan sebagai penuntut ilmu.



    Mari terus berjuang, karena setelah setiap ikhtiar, ada kemanisan yang menanti di garis akhir. Tetap semangat!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Menemukan Kekuatan Dalam Kelemahan (Rahmatan) Kali ini benar-benar berat, banyak kejutan dari-Nya yang tak terduga. Lelah, tapi memaksa untuk terus berjalan. Rapuh, tapi memaksa untuk bertahan. Sering kali isi hati dan pikiran berjalan tidak seirama. “Ya Allah kata mereka amanah tidak pernah salah memilih pundak, Engkau memberi amanah itu karena Engkau percaya padaku. Maka jadikanlah aku percaya bahwa kasih sayang-Mu menguatkanku,” bisiknya lirih dalam doa. Awalnya aku mengira semuanya akan baik-baik saja, ternyata aku tak sekuat itu, Aku tidak selalu terlihat kuat. Setiap kali bertemu dengan hal yang tidak mengenakkan, kadang ada luka yang merelakan air mata keluar. Aku bukan orang yang hebat dalam menghadapi setiap masalah, kadang ada rasa ingin menyerah tiap kali bertemu peristiwa menyakitkan. “Aku hanya manusia biasa.” Tiap hari aku selalu berusaha berdamai dengan keadaan, aku terlalu memaksakan diri untuk menjadi orang yang baik-baik saja. Berpura-pura tertawa sa...