Langsung ke konten utama

Seni Merawat Impian

(Wulan Auliyah Cahyani) 


    Saat engkau mulai memahat impian yang menjulang tinggi, tak jarang semesta terasa begitu sempit untuk menampungnya. Muncul perasaan bahwa semua itu hanyalah kemustahilan yang dipaksakan. Ada perih yang menyelinap ketika engkau memberanikan diri menceritakan angan itu kepada dunia, namun yang kau dapati hanyalah fatamorgana. Rasanya menyesakkan bukan?.

    Saat setiap pijakan yang kau coba justru membawamu pada celah kegagaan. Namun, di sinilah letak seninya. Failures are experience, and experience is the best teacher. Kegagalan bukanlah dinding yang menghentikan langkah, melainkan guru yang paling jujur dalam mengajarkan ketangguhan. Ia datang bukan untuk mematahkan sayapmu, melainkan untuk melatih kepakanmu agar lebih kokoh saat dunia memintamu berhenti.

    Jangan biarkan langkahmu terhenti oleh kata “mustahil” milik orang lain. Sebab, keyakinanmu jauh lebih besar dari sekadar suara-suara bising di luar sana. Teruslah berjalan, hingga kakimu benar-benar menapak di puncak yang kau tuju.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...
  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Di Ambang Ayal (Zahra Zahirah)      Dinamika pertemanan tak jarang berkelindan antara idealisme dan realitasnya. Kita kerap menjatuhkan harap pada hubungan yang diyakini akan bertahan lama. Hingga percikan api yang tercipta tanpa aba menghanguskan ikatan itu. Kecewa, sedih, hingga rindu yang tidak bisa diungkapkan mengiringi hari-hari setelahnya.      Di sepanjang perjalanan tiap laku hidup yang kumaknai, aku memahami bahwa pertemanan menuntut apa yang kerap kita sebut relasi timbal balik. Namun kini, timbul pertanyaan, akhir seperti apa yang sebenarnya kita harapkan dari sebuah pertemanan?      Ketika pondasi yang kau pilih adalah karena Allah, upaya saling memperbaiki tak berhenti pada kata lelah. Aku takkan melepasmu tenggelam dalam kubangan khilaf, sebagaimana aku pun menuntutmu untuk tidak diam disaat aku terjatuh dinoda kebaikan dan memberiku uluran tangan tuk kembali.      Ketika pondasi yang kau pilih adalah karena Alla...