Langsung ke konten utama

Kembalinya Mahkota Kemuliaan: Melawan Arus Jahiliah Modern

(Fauziyyah)

     


    Dahulu, sebelum fajar Islam menyingsing, dunia terlelap dalam malam yang pekat oleh kebodohan—era Jahiliyah. Di masa itu, wanita tak memiliki kedudukan; mereka dinilai lebih rendah dari gembala dan dianggap sekadar harta benda yang terabaikan. Wanita hanya dipandang sebagai alat pemuas syahwat dan pembantu di rumah sendiri. Bahkan, kehadiran anak perempuan dianggap sebagai noda hitam bagi keluarga. Sebagaimana firman Allah Ta'ala menggambarkan betapa sesaknya dada mereka kala itu: “Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah.” (QS. An-Nahl: 58). 


    Namun, kegelapan itu sirna saat Islam datang membawa cahaya harapan. Islam hadir menghapus noda-noda kebodohan dan mengangkat derajat wanita ke tempat yang paling mulia, menjadikannya sebaik-baik perhiasan dunia.


    Lebih dari itu, Islam juga memposisikan wanita sebagai arsitek utama peradaban, sumber pelita bagi generasi muda, serta oase ketenangan dalam keluarga. Dengan kemuliaan ini, wanita ditetapkan sebagai pilar strategis yang menentukan tegak atau runtuhnya sebuah peradaban.


    Ironisnya di balik megahnya modernitas hari ini, dunia seakan terseret kembali ke dalam Jahiliyah Gaya Baru. Jika dahulu fisik wanita dikubur di liang tanah, kini fitrah dan rasa malu mereka yang "dikubur" di bawah tuntutan eksploitasi dan pengakuan semu. Atas nama tren, wanita kembali diposisikan sebagai komoditas yang dinilai hanya dari rupa, bukan dari keluhuran jiwa.


    Maka sudah saatnya kaum wanita menjemput kembali mahkota kemuliaan yang telah Islam anugerahkan. Kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan untuk memamerkan diri, melainkan keberanian untuk menjaga kehormatan di tengah arus zaman. Dengan kembali pada tuntunan syariat, seorang wanita tidak hanya sedang menjaga martabatnya, tetapi juga tengah meruntuhkan tembok jahiliah modern sekaligus membangun kembali pilar peradaban yang tangguh.


Komentar

  1. Masya Allah . Luar biasa ku tunggu karya² selanjutnya ukh

    BalasHapus
  2. MasyaAllah Barakallahu fiik Ananda perdana karya tulisnya semoga kedepannya lebih aktif lagi berdakwah dan menebar kemuliaan dan keindahan islam ditunggu lagii karya² tulisnya Ananda Fauziyyah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...