Kembalinya Mahkota Kemuliaan: Melawan Arus Jahiliah Modern
Dahulu, sebelum fajar Islam menyingsing, dunia terlelap dalam malam yang pekat oleh kebodohan—era Jahiliyah. Di masa itu, wanita tak memiliki kedudukan; mereka dinilai lebih rendah dari gembala dan dianggap sekadar harta benda yang terabaikan. Wanita hanya dipandang sebagai alat pemuas syahwat dan pembantu di rumah sendiri. Bahkan, kehadiran anak perempuan dianggap sebagai noda hitam bagi keluarga. Sebagaimana firman Allah Ta'ala menggambarkan betapa sesaknya dada mereka kala itu: “Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah.” (QS. An-Nahl: 58).
Namun, kegelapan itu sirna saat Islam datang membawa cahaya harapan. Islam hadir menghapus noda-noda kebodohan dan mengangkat derajat wanita ke tempat yang paling mulia, menjadikannya sebaik-baik perhiasan dunia.
Lebih dari itu, Islam juga memposisikan wanita sebagai arsitek utama peradaban, sumber pelita bagi generasi muda, serta oase ketenangan dalam keluarga. Dengan kemuliaan ini, wanita ditetapkan sebagai pilar strategis yang menentukan tegak atau runtuhnya sebuah peradaban.
Ironisnya, di balik megahnya modernitas hari ini, dunia seakan terseret kembali ke dalam Jahiliyah Gaya Baru. Jika dahulu fisik wanita dikubur di liang tanah, kini fitrah dan rasa malu mereka yang "dikubur" di bawah tuntutan eksploitasi dan pengakuan semu. Atas nama tren, wanita kembali diposisikan sebagai komoditas yang dinilai hanya dari rupa, bukan dari keluhuran jiwa.
Maka, sudah saatnya kaum wanita menjemput kembali mahkota kemuliaan yang telah Islam anugerahkan. Kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan untuk memamerkan diri, melainkan keberanian untuk menjaga kehormatan di tengah arus zaman. Dengan kembali pada tuntunan syariat, seorang wanita tidak hanya sedang menjaga martabatnya, tetapi juga tengah meruntuhkan tembok jahiliah modern sekaligus membangun kembali pilar peradaban yang tangguh.
Komentar
Posting Komentar