Langsung ke konten utama

Kembali Kepada-Nya

Untukmu yang sedang merasa bahwa kamu sedang berjuang sendiri tanpa kawan yang menemani, merasa sendiri di ruangan yang padat dengan ribuan manusia. Merasa sudah tidak ada lagi yang peduli dengan dirimu, mungkin kamu butuh untuk membaca ini. Karena tulisan ini kupersembahkan untuk teman-temanku yang hebat, dan sedang berjuang dalam kebaikan.

Berjuang Sendiri

Berada di sebuah tempat yang asing bukanlah perkara mudah untuk dijalani, terlebih lagi jika keputusan untuk menuju tempat itu adalah keputusan kita sendiri, di kala kita merasakan penyesalan, kita tidak tahu akan menyalahkan siapa-siapa.

Aku pernah merasa bahwa aku berjuang sendiri di tempat ini, merasa tidak memiliki seseorang yang dapat memberi motivasi, hingga aku hampir berada pada titik menyerah. Namun, aku tidak ingin menjadi seorang pecundang, aku yang telah memutuskan untuk meninggalkan kampung halamanku menuju tempat asing ini. Hingga tiba di mana aku disadarkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya begitu saja. Allah selalu membersamai hamba-Nya, dan Allah selalu membantu hamba yang membutuhkan bantuan-Nya.

Hanya saja, kita sebagai hamba terkadang lupa bahwa tanpa Allah kita bukan siapa-siapa. Bukan mereka yang meninggalkanku, bukan Allah yang mengabaikanku, tapi akulah yang terlalu menutup diri dari mereka, akulah yang telah menjauh dari Allah.

Saat aku mengandalkan diriku sendiri, semakin aku berlari, semakin aku merasa tertinggal. Namun ketika aku serahkan segalanya kepada Allah, hal yang aku harapkan datang menghampiri. Istiqamah bukanlah hal yang mudah, aku sadar bahwa untuk istiqamah aku butuh kalian, aku butuh Allah, aku tidak bisa berjuang sendiri.

Kawan-kawanku, aku butuh doa kalian, aku tidak tahu siapa kalian yang membaca tulisanku ini, tapi aku tahu kamu adalah saudaraku, saudara seimanku. Semangat untukmu yang sedang berjuang, ingat perjuangan orang tua kita jauh lebih sulit dari apa yang kita lalui disini. Ingat, ada mereka yang harus kita bahagiakan, ada mereka yang menunggu kita pulang dengan membawa kebaikan, ingat kalian orang-orang pilihan Allah.

Hamasah untukmu saudara seimanku!

🖋️Rahma sainuddin 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...