Langsung ke konten utama

BERSABARLAH DENGAN KESABARAN YANG INDAH


"Ngapain ambil jurusan itu, kayak gak ada jurusan lain aja?!" 

Kata mereka yang cuma tahu jurusan-jurusan terkenal saja. Padahal jurusan ini bukan hanya sekedar belajar dan mengajar. It's more than that!. Dan cita-cita itu tidak terbatas pada hal-hal yang keren atau yang menghasilkan uang saja. Semua ini sudah ada porsinya masing-masing.

Apalagi untuk orang-orang yang merasa salah jurusan di luar sana. Kita harus menyadari fakta bahwa setiap jurusan memiliki kesulitannya tersendiri. Kita berpilar bahwa hal yang kita sukai adalah jawaban dari segalanya, padahal hidup itu tidak semuanya tentang hal yang kita sukai saja. But you need to try to fit it.

Kita semua tahu bahwa kuliah itu bukan sekedar duduk di kelas atau tentang pekerjaan apa yang akan dilakukan nanti, tapi sejatinya kita memang butuh belajar, kita butuh ilmu.

Then...

Let's flashback!

Sudahkah kita belajar dengan baik?

Sudahkah kita belajar dengan orang yang tepat?

Atau sekedar duduk dan mencoba memahami pelajaran tersebut?

Who knows?

MASALAHNYA ADA DALAM DIRI KITA

Tapi kita tidak harus tergesa-gesa di sini karena bunga yang kita tanam kemarin tidak bisa kita panen hari ini. Tidak perlu membandingkan perjalanan kita dengan orang lain, we have our own story, setiap bunga butuh waktu untuk mekar. Maka bersabarlah dengan kesabaran yang indah. Adaptasi tidak pernah menjadi hal yang mudah tetapi kita harus tetap berjalan, tidak membiarkan cita-cita itu hanya melayang di udara. Ketahuilah, ia menunggu untuk digapai, and let's work for it.

Mungkin juga ada masa di mana kalimat penyemangat tidak lagi menjangkau hati,

keinginan untuk makan hilang, also your favorite things don't interest you anymore. 

And here i am to make you realize that the only thing you need to do is "be patient". 

Karena perasaan ini pasti berlalu. 

Ingatlah bahwa Allah yang memberi kita masalah dan Dia jugalah yang akan mengeluarkan kita dari masalah tersebut. Oleh karena itu, kita harus bersabar, mendekatkan diri kepada Allah, serta terus berusaha menyebar kebaikan.

🖋️Cinta Febrianty Idham

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

 Negeriku yang Kucintai (Cinta Febrianty Idham) Dari dulu, aku selalu merasa bangga karena membawa tumbler ke mana-mana. Merasa paling hemat, paling go green , bahkan diam-diam merasa sedikit lebih keren daripada mereka yang masih membeli minuman kemasan. Seolah-olah, dengan membawa botol minum sendiri, aku telah mengambil bagian dalam menyelamatkan bumi. Sampai suatu hari, sebuah video pendek menyadarkan aku bahwa bahkan sesederhana air minum pun tidak sepenuhnya terlepas dari persoalan politik. Dari bagaimana sumber daya dikelola, bagaimana industri dijalankan, bagaimana sampah plastik ditangani, hingga bagaimana kebijakan lingkungan dirumuskan di meja kekuasaan. Ternyata, menjadi ramah lingkungan bukan hanya soal keputusan personal untuk membawa tumbler . Ada sistem yang lebih besar di balik apa yang kita konsumsi, apa yang kita buang, dan lingkungan seperti apa yang akhirnya kita tinggali. Turns out, even the simplest things in life are political. To be honest, life has b...
  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...