Langsung ke konten utama

Allah Selalu Membersamai di manapun Kamu Berada



Apakah kalian pernah merasakan bahwa kalian itu hebat dan tidak butuh Allah? Mungkin sebelum kita mengenal tarbiyah, kita mengandalkan kemampuan diri kita atas keberhasilan kita. Kita tidak menyandarkan kemampuan yang kita punya kepada Allah, begitu sombongnya kita mengatakan, “Saya bisa menyelesaikan kegiatan atau tugas ini tanpa Dia.” 


Padahal, seandainya kalian tahu sedikitpun kalian tidak bisa selesaikan itu tanpa ridho dari Allah, tanpa taufik dari Allah. Jadi, jangan pernah merasakan bahwa kalian itu sendirian, jangan pernah merasakan seperti itu. Karena hakikatnya, kita itu bersama Allah. Allah senantiasa membersamai kalian di setiap langkah-langkah yang kalian jalani. 


Allah selalu melihat apapun yang kalian kerjakan. Begitupun ketika kita merasakan kesedihan, berada dalam kelelahan, apalagi kita kelelahan dalam mengerjakan amanah-amanah kita. Ingat, bahwasanya apapun yang kita kerjakan, apapun yang kita keluarkan untuk agama Allah itu akan terbalas. Allah Maha Melihat, Allah tidak pernah tidur, Allah selalu Melihat perjuangan kalian. 


Ketika kalian diberikan amanah kemudian menghilang dari jalan dakwah ini, maka sadarlah bahwa Allah melihat kalian dimanapun kalian berada. Kalian lalai maka pikirkanlah ada orang-orang yang terzolimi karena kalian meninggalkan amanah yang kalian punya.


Begitupun kalian yang mengambil amanah yang banyak, bahagialah. Karena sesungguhnya, Allah telah mempersiapkan balasan yang terbaik. Balasan yang tidak bisa terhitung di mata manusia, yang tidak bisa dibalas oleh manusia, dan yang tidak bisa ternilai di sisi manusia, tapi ternilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. 


 وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٞ

“Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui” (Al-Baqarah: 215)




✒️ Langi Sahrani

Mahasiswi STIBA Makassar Angkatan 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

 Negeriku yang Kucintai (Cinta Febrianty Idham) Dari dulu, aku selalu merasa bangga karena membawa tumbler ke mana-mana. Merasa paling hemat, paling go green , bahkan diam-diam merasa sedikit lebih keren daripada mereka yang masih membeli minuman kemasan. Seolah-olah, dengan membawa botol minum sendiri, aku telah mengambil bagian dalam menyelamatkan bumi. Sampai suatu hari, sebuah video pendek menyadarkan aku bahwa bahkan sesederhana air minum pun tidak sepenuhnya terlepas dari persoalan politik. Dari bagaimana sumber daya dikelola, bagaimana industri dijalankan, bagaimana sampah plastik ditangani, hingga bagaimana kebijakan lingkungan dirumuskan di meja kekuasaan. Ternyata, menjadi ramah lingkungan bukan hanya soal keputusan personal untuk membawa tumbler . Ada sistem yang lebih besar di balik apa yang kita konsumsi, apa yang kita buang, dan lingkungan seperti apa yang akhirnya kita tinggali. Turns out, even the simplest things in life are political. To be honest, life has b...
  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...