Langsung ke konten utama

Berdamai dengan Kehilangan


 Berdamai dengan Kehilangan


Pada suatu waktu, orang-orang yang berduka akan berdamai dengan kehilangan.

Semua ada waktunya. Hari ini mungkin belum saatnya, karena kedua kakimu masih berdiri tegak di dunia. Seusai kematianmu, sesegera itu manusia akan melupakanmu.

Akan ada banyak orang yang berduka atas kematianmu, kehilanganmu, terutama keluarga dan teman-teman terdekatmu. Itu sudah pasti !

Namun, perlahan kamu akan terlupakan. Itu juga pasti !

Sebaik apa pun perilakumu terhadap orang-orang di dunia, ketika sudah disambut oleh kematian, seiring berjalannya waktu kamu akan terlupakan. Sekalipun orang itu adalah orang terdekatmu.

Tugasmu hanyalah bagaimana untuk tetap berbuat baik pada orang lain agar setelah kematianmu, mereka hanya mengenang kebaikan-kebaikan darimu.

Dengan catatan kamu berbuat baik bukan karena ingin meraih pujian dari makhluk-Nya, namun karena Allah semata.

Serta, jadilah sebaik-baik manusia yang bermanfaat untuk orang-orang yang ada di sekitarmu.

خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Tinggalkanlah jejak-jejak kebaikan di dunia, yang di mana manusia akan mengikutinya. Ciptakanlah kenangan di dunia, yang di mana manusia dapat mengambil pelajaran darinya. Semoga dengan cara inilah orang-orang akan berdamai selepas kehilanganmu.


Note: Tetaplah berbuat baik, cukup Allah yang menjadi saksi.




Lathifah
Mahasiswi STIBA Makassar angkatan 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...