Langsung ke konten utama

Kotak Rindu

Hari ini, aku benar-benar rindu

Rindu pada sebuah kehidupan yang belum lama berlalu

Kehidupan yang tak disetiap tempat ditemu

Yang menciptakan banyak suka dan haru

Membentuk perilaku-perilaku baru

Hingga tak ada yang menjadi benalu

 

Hari ini, aku benar-benar rindu

Aku rindu saat saling bangun membangunkan dini hari

Turun dari tempat tidur dengan lima anak tangga besi

Mencari sikat dan pasta gigi lalu berjalan keluar menuju kamar mandi

Di depan pintunya  aku berdiri

Sambil mengamati  saudari-saudariku berjejer rapi menunggu giliran antri

 

Aku rindu..

Melihat semuanya bergegas menuju karpet abu yang berbentangan

Keluar dari kamar memenuhi panggilan adzan

Turun dari lantai dua dengan sajadah di genggaman

Pada saat itu akan tampak seseorang menarik gulungan kabel acak-acakan

Dan akan terlihat bidang ibadah cemas menunggu imamah yang tak kunjung datang

 

Aku rindu..

Mendengarkan I’lan dari bidang hafalan

Satu kalimat tanda masuk waktu setoran

Setelahnya, akan tampak majelis tak beraturan

Dan tak ada suara kecuali lantunan ayat al-Qur’an

Lupa, diingatkan

Tidur, dibangunkan

Semua harus setoran tanpa alasan

 

Aku rindu..

Pada suasana kerja bakti setiap kali matahari terbit

Semua bergerak gesit

Rebutan sapu yang sudah tak berkulit

Menyapu bergilir walau hanya sedikit

Ada juga yang mengisi botol superpel

Sisanya mengepel

Membuang sampah

Pokoknya semua bekerja hingga lelah tidak terasa

 

Aku rindu..

Rindu menyaksikan saudari-saudariku berjalan menuju gedung biru

Bersemangat mendatangi ilmu

Melewati puluhan anak tangga untuk sampai ke lantai yang dituju

Lalu menumpuk buku diatas bangku

Mengatur kursi di balik hijab yang terpaku

Serta menunggu ketukan pintu dari sang guru

 

 

Aku rindu pada rutinitas

Menghabiskan setengah hari dalam kelas

Menelaah kitab-kitab penuh antusias

Menulis talkhis dan menghafal hadis yang baru saja dibahas

 

Aku rindu,

Dengan suara imamah ketika shalat berjama’ah

Rindu panggilan tarbiyah di rumah murabbiyah

Rindu undangan tahsinul qiro’ah di qo’ah

Rindu tukaran hadiah dalam gurfah

Dan dengan ajakan rihlah

 

Hari ini, aku benar-benar rindu..

Pada sosok yang tak pernah bosan memberi nasihat

Pada teman yang menjadi panutan dalam taat

Pada sahabat yang pandai mencipta ukhuwah dengan erat

Pada mereka yang mengisi tazkiyatunnafs setiap Jum’at

Pada dia yang menjadi pengingat agar tetap sehat

Dan pada semua yang ketika lupa, membantuku untuk ingat

 

Sungguh aku benar-benar rindu..

Penguatan iman tatkala takut

Peringatan makan agar maag tak akut

Mengikuti pembelajaran sampai larut

Di atas lantai perpustakaan bagian sudut

 

Aku benar-benar rindu..

Pada seluruh kegiatan qism lughah

Rindu melihat lauhah yang penuh pembagian halaqah

Rindu jam wajib belajar assa’ah adzzahabiyyah

Dan rindu mendengar I’lannya dari meja hirosah

 

Sekali lagi aku rindu..

Kepada para pengurus-pengurus kampus

Yang bekerja ikhlas nan tulus

Memberi solusi pada setiap kasus

Dalam musyawarah panjangnya sampai titik lemah fokus

Semoga Allah membalas mereka dengan penghuni surga sebagai status

 

Pulihlah, kuingin semua rindu dibalas temu

Semalam, kulihat bangunan kotak itu

Berbisik rayu kepadaku

Bahwa "aku juga rindu"

 

"Semoga pandemi cepat berlalu

Lalu kita bertemu"


Mahasiswi STIBA Makassar (angkatan 2017)

 

Komentar

  1. Masya Allah mewakili semua yg sedang berselimut rasa rindu akan Asrama, sukses for jurnalistik STIBA Makassar

    BalasHapus
  2. MasyaAllah :) Aamiin Allahumma Aammiin

    BalasHapus
  3. Maa Syaa Allah..
    Baarakallau fiikum

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. MasyaAllah....harapan Sya Yg ingin masuk Stiba Makassar Tak tersampaikan,,,bgtu indah kehidupan beralas kebersamaan...Ya Rabbi pulihkan bumi ini,,agar kebersamaan Yang di rindukan Para ukhtyku tak hanya Sebatas harapan tetapi bisa berupa kenyataan...

    BalasHapus
  6. Maa syaa Allaah
    Semoga rindu ini ada titik temu

    BalasHapus
  7. maasyaAllah,
    Baaraakallahu fiikunna jamian

    BalasHapus
  8. ماشاءالله
    رائعة
    بارك الله فيك

    BalasHapus
  9. Baru mulai terasa setelah beberapa pekan lagi pergi. Dan pastinya puisi ini akan benar2 bermakna ketika kejadian itu datang'(

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Menemukan Kekuatan Dalam Kelemahan (Rahmatan) Kali ini benar-benar berat, banyak kejutan dari-Nya yang tak terduga. Lelah, tapi memaksa untuk terus berjalan. Rapuh, tapi memaksa untuk bertahan. Sering kali isi hati dan pikiran berjalan tidak seirama. “Ya Allah kata mereka amanah tidak pernah salah memilih pundak, Engkau memberi amanah itu karena Engkau percaya padaku. Maka jadikanlah aku percaya bahwa kasih sayang-Mu menguatkanku,” bisiknya lirih dalam doa. Awalnya aku mengira semuanya akan baik-baik saja, ternyata aku tak sekuat itu, Aku tidak selalu terlihat kuat. Setiap kali bertemu dengan hal yang tidak mengenakkan, kadang ada luka yang merelakan air mata keluar. Aku bukan orang yang hebat dalam menghadapi setiap masalah, kadang ada rasa ingin menyerah tiap kali bertemu peristiwa menyakitkan. “Aku hanya manusia biasa.” Tiap hari aku selalu berusaha berdamai dengan keadaan, aku terlalu memaksakan diri untuk menjadi orang yang baik-baik saja. Berpura-pura tertawa sa...