Langsung ke konten utama

Satu Hari Lagi

(Sitti Fasilah)

“Setiap kita telah diberi beban di pundak untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Allah telah memilih kita untuk lebih kuat. Ada banyak hal yang membuat kita banyak terbungkam dengan hikmah yang Allah berikan kepada kita. Tapi, di antara kita masih bingung dan sulit memaknai arti dari sebuah kejadian itu.”

Dengan segala harapan yang ditumpahkan kepadamu, kamu akan tetap harus berdiri di sini melawan hempasan ombak dan badai yang akan selalu datang. Pikirku, perjalanan ini akan mudah untuk kulalui, mungkin aku selalu merasa tidak ada yang istimewa di tempat ini. Cukup bertahan, selesaikan apa yang perlu diselesaikan dan pulang bagaikan pendekar yang telah selesai dengan misinya.

Namun, itu salah. Di tengah perjalanan aku hampir tertatih melawan diriku sendiri, melawan nafsu pada diriku sendiri. Aku lelah, tapi semua orang lelah dengan perjalanannya masing-masing, sedangkan aku masih di tempat dan berusaha berdamai pada diri dan keadaanku. Tiap harinya aku selalu menghitung sudah berapa hari yang telah aku jalani, sudah berapa banyak tangis dan kata lelah yang selalu keluar di setiap akhir sujudku.

Aku tak mengerti banyak hal tentang apa dan bagaimana, bertemu dengan banyak kepala yang isinya tidak sama. Beradaptasi pada hal-hal baru bagiku sangat sulit, aku harus meng-charge lebih lama untuk diriku sendiri sebelum bertemu banyak orang. Tetapi dari banyaknya manusia yang kukenal, aku mulai belajar dari mereka. Aku banyak mendengar dan memahami bahwa bukan hanya kita yang berada di posisi itu.

“Bertahanlah, semua akan mudah. Aku akan selalu menemani”. Singkat, padat, dan bermakna.

Siapa bilang hidup akan selalu berjalan dengan mulus, ada banyak tikungan tajam yang tak terlihat. “Huft” sepertinya aku sudah mulai merasakan bumbu-bumbu hidup di bangunan tinggi yang menjulang ini. Aku mulai merasakan sedih, kecewa, amarah, bahkan di titik putus asa saat itu, aku menangis sejadi-jadinya dan tidak ingin lagi berharap banyak saat itu.

People leave and replaced.

Semua orang yang kukenal pergi satu persatu, aku merasa kehilangan banyak hal. Hari-hariku dipenuhi dengan keceriaan tiba-tiba ditimpa lara mendalam. Memang, perpisahan akan selalu berakhir tangis.

 “Untuk apa bertahan lagi? Semua orang sudah pergi, hanya aku sendiri,” ucapku. Tapi ada saja manusia-manusia yang selalu menemaniku dan memberi banyak nasehat. Sepertinya aku terlihat jahat kepada mereka karena selalu menyepelekan perkataan mereka. Namun yang selalu aku ingat “Bertahanlah, satu hari lagi! Kalau belum bisa, bertahanlah satu hari lagi! Sampai kamu bisa bertahan selamanya.”

Aku sembuh dengan caraku sendiri, aku mulai berdamai pada semua yang telah terjadi. Setiap orang yang kita temui akan memberi kita hikmah dan banyak hal. Aku mengambil banyak kesibukan untuk melupakan semua, di samping itu aku bertemu dengan banyak orang yang kukira agak menyeramkan dan ternyata itu hanya feeling-ku sendiri. “Semakin hari semakin wah, banyak juga ya gebrakannya.” Tapi inilah series kehidupan walaupun malamnya kita menangis sampai mata membengkak, tetap saja keesokan harinya kita harus bisa tersenyum.

Mungkin banyak dari kita didewasakan oleh keadaan, misalnya berada pada amanah tersebut, dan ada-ada saja orang keras kepala dan tidak mau mendengar di sekeliling kalian. Namun, dengan hal itu kamu bisa bersabar dan mulai memahami isi dari kepala mereka. Mustahil saja, di tempat ini kita selalu bertemu dengan orang yang selalu baik bahkan diri sendiri pun dipertanyakan. Dari amanah dan keadaan, aku menemukan diriku yang sebenarnya. Ujian kemarin memang begitu berat, tapi hikmahnya aku banyak belajar dari sana.

Terima kasih untuk manusia-manusia yang pernah meluangkan waktu untuk mendengar ceritaku yang isinya hanya itu-itu saja, memberi nasehat, bahkan hanya saling bertukar senyum. Kalian semua hebat, bisa bertahan sampai detik ini.

“Masalah datang bukan untuk menjatuhkanmu, tapi untuk membuktikan bahwa kamu bisa menjalaninya.”

 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...