Langsung ke konten utama

 Kelana


Akhir – akhir ini waktu berjalan seperti seseorang menuangkan minyak di atas permukaan waktu, Yep slick. Tidak pernah terasa sepekan terasa secepat ini bahkan ketika begitu banyak hal yang harus dilakukan, meskipun begitu kita semua tahu bahwa waktu tidak pernah menunggu seseorang. Kalau dulu kita mencoba menyibukkan diri agar tidak sempat merasakan those feelings dan mencoba mengabaikan semua perasaan yang ada but not anymore.

Bahkan kita tidak sempat diberi waktu untuk bersedih ataupun sekedar merasakan perasaan yang tengah membucah saat ini. Rasanya seperti nah, we can’t be sad today we have a lot of works to do. Itu semua terus berulang, hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan bahkan sampai hari ini pun kita seakan berkemas hendak meninggalkan tahun 2024.

feels like time really flies when life is falling apart.

Akan tetapi tidak semua yang bersedih menangis dan tidak semua yang menangis bersedih, di sini saya mencoba mengeluarkan yang selama ini berputar – putar dalam diri saya walaupun tulisan saya tidak pernah sebaik tatapan dalam menyampaikan perasaan. Untuk beberapa kesempatan rasanya ingin saja bersembunyi dan menghilang dari kenyataan, jika saja manusia bisa menggali lubang dan mengubur diri untuk beberapa saat, jika saja ada hari di antara hari ini dan hari esok, jika saja setiap manusia memiliki power button, I wanna turn me off then  for a second, itu semua bukan karena I’m doing bad at life hanya saja terkadang  there are many places we can run to, but there no escape in there.

Setelah kenyataan menyapa, saya tersadar bahwa saya adalah orang yang beruntung di antara triliunan manusia karena keluarga harmonis yang selalu siaga memenuhi segala kebutuhan, teman – teman yang selalu bersama saya sejak awal yang selalu mendukung tanpa pernah menghakimi, saudara-saudara yang dengan lembut menepuk pundak ketika lelah belajar, bahkan lingkungan yang selalu menegur tanpa ragu takut-takut salah arah, maka harusnya tidak ada kekurangan yang membuat saya tidak dapat melanjutkan hidup.

Namun, bukan hidup namanya kalau berjalan semulus aspal, di samping semua itu ada yang hilang, ada yang kopong di sini. And dis was the one that opened every chapter of my life, rasa syukur yang selama ini tertinggal justru menjadi penggenap hidup ini. Tidak peduli seberapa banyak nikmat yang diberikan tetap saja dahaga itu tidak pernah terselesaikan melainkan dengan rasa syukur. Dan ini yang ingin saya sampaikan pada pembaca Blog Jurnalistik Putri STIBA Makassar yaitu pentingnya menyadari nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah serta mensyukuri keberadaannya sebelum hal tesebut diangkat. Pada Quran Surah an-Nahl ayat 18 dikatakan,

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Pada nyatanya nikmat yang didapatkan setiap hari itu bukan hal yang dapat diberikan bahkan dari manusia lain kecuali Allah. Jantung yang masih berdetak di pagi hari seharusnya telah menjadi alasan kita untuk bersyukur, tubuh sehat yang sering diabaikan dan tidak jarang kita melupakan bahwa tubuh sehat bukan lagi sebuah kelebihan saking lumrahnya hal ini, bagaimana tidak jantung yang masih berdetak dan tubuh yang sehat sebagai alasan kita masih diberi kesempatan untuk beribadah kepada-Nya. Bukankah ketika kita bersyukur maka pasti Allah akan menambahkan nikmat yang kita miliki sesuai pada firman-Nya Surah Ibrahim ayat ke-7,

لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,"

Bukankah ini cukup untuk dijadikan sebagai alasan untuk bersyukur atas segala yang kita miliki sekarang. Mungkin ada masa di mana kalimat penyemangat tidak lagi menjangkau hati atau bahkan hidup sudah tidak terdengar menyenangkan tetapi tolong syukuri apa yang terjadi sekarang karena itu tidak akan terjadi tanpa sebab dan hal baik dari Allah.

 🖋️Cinta Febrianty Idham

Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Menemukan Kekuatan Dalam Kelemahan (Rahmatan) Kali ini benar-benar berat, banyak kejutan dari-Nya yang tak terduga. Lelah, tapi memaksa untuk terus berjalan. Rapuh, tapi memaksa untuk bertahan. Sering kali isi hati dan pikiran berjalan tidak seirama. “Ya Allah kata mereka amanah tidak pernah salah memilih pundak, Engkau memberi amanah itu karena Engkau percaya padaku. Maka jadikanlah aku percaya bahwa kasih sayang-Mu menguatkanku,” bisiknya lirih dalam doa. Awalnya aku mengira semuanya akan baik-baik saja, ternyata aku tak sekuat itu, Aku tidak selalu terlihat kuat. Setiap kali bertemu dengan hal yang tidak mengenakkan, kadang ada luka yang merelakan air mata keluar. Aku bukan orang yang hebat dalam menghadapi setiap masalah, kadang ada rasa ingin menyerah tiap kali bertemu peristiwa menyakitkan. “Aku hanya manusia biasa.” Tiap hari aku selalu berusaha berdamai dengan keadaan, aku terlalu memaksakan diri untuk menjadi orang yang baik-baik saja. Berpura-pura tertawa sa...