Langsung ke konten utama

Di mana Posisimu dalam Perjuangan Dakwah Ini?



“Hidup biasa-biasa saja tanpa melalukan apa-apa atau hidup luar biasa dengan mengukir sejarah perjuangan dengan tinta emas. Pilihan ada pada dirimu.”


Jika kembali membuka cerita tentang para orang-orang terdahulu dalam islam, maka kita hanya akan melihat perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, kesabaran, semangat dan kesungguhan yang luar biasa.


Bagaimana perjuangan para sahabat radhiallahu ‘anhum dalam menghadapi kecaman di tempat kelahiran mereka sendiri, bahkan rasanya penindasan sudah menjadi asupan tiap harinya. Namun lihatlah bagaimana manisnya keimanan mampu menyembuhkan setiap luka, manisnya keimanan ternyata mampu menjadi tonggak ketika dihadapkan dengan kerasnya hidup.


Bagaimana Khadijah Bintu Khuwailid radhiallahu ‘anha yang dikenal sebagai wanita bangsawan, kaya raya dan terhormat memberikan seluruh hartanya demi pergerakan dakwah ini. Apakah ia pernah menyesali perbuatannya itu? Sama sekali tidak.! Bahkan di akhir hidupnya ia mengatakan “Wahai Rasululullah, tiada lagi harta dan hal lainnya yang bersamaku untuk aku sumbangkan demi dakwah. Andai selepas kematianku, tulang-tulangku mampu ditukar dengan dinar dan dirham, maka gunakanlah tulang-tulangku demi kepentingan dakwah yang panjang ini.


Maa syaa Allah, lagi-lagi kita dibuat tertegun dengan bagaimana pengorbanan mereka terhadap dakwah ini, yang dimana pengorbanan adalah saripati keimanan itu sendiri. Lalu apa yang membekali beliau hingga begitu bergairah dalam perjuangan islam ini ? Jawabannya tak lain hanyalah harapan yang besar kepada Ridha dan janji Allah. Bagaimana keikhlasan dan kesabaran keluarga Yasir radhiallahu ‘anhum dalam dalan juang ini. Allah memberikan ujian kepada mereka yang tidak semua orang mampu memikulnya. 


Siksaan yang dilakukan oleh Bani Makhzum terhadap keluarga Yasir pada saat itu mampu menampar kita sekaligus memberikan tentang devisi keikhlasan dan kesabaran yang sebenarnya. Tiap hari diseret ke padang pasir Makkah, dideret dengan siksaan-siksaan yang begitu pedih, dibawah panas matahari yang mampu membakar kulit namun ternyata justru semakin membakar semangat mereka dalam memperjuangkan agama ini.


Sumayyah yang dengan keteguhannya memegang Agama Allah, dari awal penyiksaan hingga diakhir nafasnya mampu menunjukkan bagaimana seharusnya para pejuang. Bagaiamana ia dengan tenangnya menghadapi kematian justru membuat keberanian Abu Jahal menciut hingga ia membunuhnya. Wanita pertama yang syahid dalam islam itu sukses membuat kita malu, ternyata perjuangan kita dalam dakwah belum apa-apa. Walau umur keislaman yang terbilang cukup muda ternyata mampu membuat Syurga begitu merindukan keluarga ini. Begitulah kira-kira keimanan mereka, sangat teguh dan tak tergoyahkan.


Sepenggal cerita diatas adalah cerita juang para pejuang yang diharapkan memberikan atsar (pengaruh) terhadap jiwa-jiwa yang masih tertidur. Wahai jiwa yang mengaku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, di manakah posisimu saat? Apakah kau termasuk orang-orang yang berada dalam barisan dakwah? Atau orang-orang yang memilik menarik dirinya dari perjuangan?


Sebenarnya kereta dakwah akan tetap terus berjalan. Agama islam ini akan tetap dimenangkan ada atau tidak adanya dirimu. Namun, sungguh sangat disayangkan jika Islam ini telah jaya namun ternyata namamu tidak tertulis dalam catatan malaikat.


Pilihan ada pada dirimu, ingin hidup biasa-biasa saja tanpa melakukan apapun atau hidup luar biasa dengan mengukir sejarah perjuangan Islam. 




Bintumustar

✒️ Mahasiswi STIBA Makassar Angkatan 2022



Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Menemukan Kekuatan Dalam Kelemahan (Rahmatan) Kali ini benar-benar berat, banyak kejutan dari-Nya yang tak terduga. Lelah, tapi memaksa untuk terus berjalan. Rapuh, tapi memaksa untuk bertahan. Sering kali isi hati dan pikiran berjalan tidak seirama. “Ya Allah kata mereka amanah tidak pernah salah memilih pundak, Engkau memberi amanah itu karena Engkau percaya padaku. Maka jadikanlah aku percaya bahwa kasih sayang-Mu menguatkanku,” bisiknya lirih dalam doa. Awalnya aku mengira semuanya akan baik-baik saja, ternyata aku tak sekuat itu, Aku tidak selalu terlihat kuat. Setiap kali bertemu dengan hal yang tidak mengenakkan, kadang ada luka yang merelakan air mata keluar. Aku bukan orang yang hebat dalam menghadapi setiap masalah, kadang ada rasa ingin menyerah tiap kali bertemu peristiwa menyakitkan. “Aku hanya manusia biasa.” Tiap hari aku selalu berusaha berdamai dengan keadaan, aku terlalu memaksakan diri untuk menjadi orang yang baik-baik saja. Berpura-pura tertawa sa...