Langsung ke konten utama

Momentum Ramadan di Palestina



Di bulan Ramadan ini, mungkin kita sedang memikirkan makanan apa yang akan dimakan saat buka dan sahur. Atau sedang sibuk memikirkan agenda Ramadan, seperti tadarrus atau muroja'ah Al-Qur’an. Kita masih bisa tenang menyusun segala agenda yang akan kita lalui, sedangkan saudari kita di Palestina, mereka tidak bisa melakukannya dengan tenang dan aman, mereka terhalang kebebasan. Mereka sedang tidak baik-baik saja. 

Mungkin saja sudah tersebar di antara kita kabar terkini dari saudari-saudari kita di Palestina sana. Bagaimana para zionis laknatullah menyerang mereka, memukul, menyiksa, hingga dari tangan-tangan mereka ada nyawa kaum muslimin yang melayang. Yah, kaum muslimin di Palestina kembali di serang di bulan suci Ramadan. Kesucian dari bulan Ramadan, kesucian dari Al-Quds, kesucian dari tanah Palestina kembali dibasahi oleh darah dari tangan para zionis laknatullah. 


Video-video yang tersebar dan kita saksikan di sosial media hanya segelintir saja dari kekejaman zionis laknatullah kepada kaum Muslimin yang terekspos, dan pasti masih banyak yang tidak terekam kamera, yang jauh lebih kejam. Kaum Muslimin di sana menangis, menjerit, menahan sakit, meminta tolong, anak-anak ketakutan, memberikan trauma mendalam akan kekejaman yang dilakukan oleh kaum zionis laknatullah. 


Mereka ingin beribadah dengan khusyuk di bulan Ramadan ini, mereka ingin berpuasa dengan damai, shalat Tarawih dengan tenang dan aman, tapi di belakang mereka ada puluhan senjata yang mengarah ke mereka, yang siap membidik dan menembaki mereka kapan saja. 


Al-Quds, masjid yang kita rindukan untuk mengunjunginya setelah Masjid al-Haram Makkah dan Masjid Nabawih Madinah. Kini kembali ternodai di bulan Ramadan. Kembali, kaum Muslimin di Palestina diuji di bulan Ramadan. Entah apa yang ada dipikiran para zionis laknatullah. Kenapa mereka tetap mengusik ketenangan kaum Muslimin di bulan Ramadan? Tak adakah jeda untuk menghela napas dan khusyuk beribadah kepada Allah? Apakah ada rasa takut sehingga memilih menyerang kaum muslimin saat sedang asyiknya bermunajat dengan Rabb-nya di Ramadan ini? 


Lihatlah, mereka ingin beribadah semaksimal mungkin di bulan Ramadan ini tapi terhalang oleh kondisi. Tapi kita, yang masih tenang, aman, dan damai di rumah, di kamar, di negeri ini apakah sudah memaksimalkan ibadah kita? Sampai mana amalan kita selama Ramadan ini? Akankah timbangan kebaikan itu semakin berat atau malah semakin ringan dan tersisa hanya kesia-siaan? 


Marilah, manfaatkan waktu terbaik di sisa Ramadan ini. Perbanyaklah beribadah kepada-Nya. Perbanyaklah berbuat kebaikan, beramal saleh. Perbanyaklah berdoa, terkhusus doa untuk kaum Muslimin di Palestina. Manfaatkan sosial media yang ada, untuk menyebar kebaikan, menolong kaum Muslimin di Palestina, menyuarakan ketidaksetujuan sebagai tindakan protes atas kekejaman zionis laknatullah, agar dunia membuka mata setelah lama tertutup karena tertidur atau buta. 


Kencangkan lagi ibadah kita, kuatkan lagi doa-doa kita terkhusus untuk Kaum Muslimin di Palestina dan untuk kebebasan Al-Quds. Karena doa kaum muslimin di bulan Ramadan pasti akan terijabah oleh-Nya. 


Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadan, dan setiap muslim apabila dia memanjatkan doa, akan dikabulkan.” 

(HR. Al-Bazaar, Al-Haitsami dalam Majma’  al-Zawaid, 10/14 )




✒️ Sashatiaraa_

Mahasiswi STIBA Makassar Angkatan 2019



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...