Langsung ke konten utama

Kembalilah kepada Allah



Menjadi anak pertama tidaklah mudah. 

Apalagi jika yang menjadi anak pertama adalah seorang perempuan. 

Sifat asal setiap perempuan adalah manja. Namun saat dia diposisikan sebagai anak pertama, maka dia harus memiliki bahu yang tegap untuk bisa menahan semua beban. 

Harus bisa memberi contoh yang baik kepada adik-adiknya. 

Harus bisa menjadi kebanggaan orang tua.

Harus bisa memenuhi semua harapan dan ekspektasi keluarga. 

Harus selalu terlihat baik-baik saja. 

Harus sukses.

Harus bisa segalanya.

Harus selalu mengalah. 

Harus siap memikul tanggung jawab yang besar saat kedua orang tua sudah tiada, yaitu menjaga adik-adik. 

Setiap selesai sholat di malam hari, tak pernah lelah kuberdoa kepada Allah, agar selalu diberikan kekuatan. 

Karena aku tahu, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. 

Jika Allah yakin aku bisa, kenapa aku harus ragu dengan keyakinan Allah?

Saat berada dalam kondisi sangat lelah, tak apa menangis.

Menangislah kepada Allah.

Curhatlah kepada Allah.

Datanglah kepada Allah.

Ceritakan semuanya.

Percayalah Allah tidak akan bosan mendengarkan karena Dialah yang lebih mengenal dan memahami kita lebih dari diri kita sendiri. 


Menangis tak membuktikan kita lemah. 

Itu mengindikasikan jika kita hidup. 

Apa yang kita lakukan setelah menangis bukan menjadi penentu lemah atau tidaknya diri kita. 

Jangan menyerah...

Nikmati setiap prosesnya.

Nikmati kebahagiaan kecil di dalam hari-hari kita. 

Tertawalah... 

Bersyukurlah... 

Entah jalur apa yang kita ambil, ujung dari sebuah kehidupan adalah kembali ke tanah.



🖋️ fulanah

Mahasiswi STIBA Makassar Angkatan 2021


Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...