Langsung ke konten utama

Mencintai Dirimu Sendiri


Mencintai Dirimu Sendiri



"Aku tidak bisa! Kenapa harus aku yang dapat bagian itu?" keluhnya sambil meremas kertas kosong yang tak juga menghasilkan jawaban, kemudian membuangnya. 

"Kenapa? Kok di buang?" tanya salah satu dari temannya yang tiba-tiba datang sambil memungut kertas tersebut. 

"Kesel saja, daritadi mikir tapi gak dapat jawabannya. Kenapa juga harus aku yang dapat bagian ini? padahal masih ada yang lebih jago dan lebih pintar daripada aku. Kenapa aku yg dipilih sih?"

Temannya tertawa, lucu katanya. 

"Hei dengar, daripada memikirkan alasan kenapa kamu yang dipilih, dan membandingkan dirimu dengan orang lain, lebih baik kamu ulangi pelajaran tadi, simak baik-baik. Kalau belum juga paham, bisa searching kan? Ini kertas yang tadi, jangan dibuang. Sayang loh, sekarang buku harganya mahal. Semangat..!!"

Setelah melontarkan sedikit kata-kata dan senyuman, temannya pergi meninggalkannya dengan berbagai macam perasaan. 

Dia pun berpikir, jika perkataan temannya ada benarnya, mengeluh tidak dapat mengubah ketentuan yang sudah terjadi. 

Kita hanya perlu fokus pada diri kita, bukan orang lain. Kalau orang lain bisa, maka kita juga bisa dengan usaha kita. 

Hanya saja, jangan pernah biarkan putus asa memenangi dirimu, sebelum kamu mencoba. 

Kita belajar untuk berubah dari kesalahan menjadi pengalaman, bukan belajar menjadi yang terhebat. 

Kita hanya perlu memulai dari diri kita sendiri. Maka, tetaplah berusaha mencintai dirimu dengan hal-hal positif yang akan membawamu pada perubahan yang lebih besar. 

Karena hidupmu adalah tentangmu, bukan tentang orang lain.




Mahasiswi STIBA Makassar angkatan 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...
  KETIKA HATI MULAI HILANG ARAH (Nur Fadhilah K) Ada masa di mana langkah terasa ringan tapi jiwa terasa berat. Ada waktu di mana semua terlihat baik-baik saja, tapi hati terasa kosong.             Kadang hidup berjalan begitu cepat. Kita sibuk dengan rutinitas, mengejar cita-cita, dan menumpuk rencana yang seolah tak ada habisnya. Tapi di tengah semua itu, tanpa sadar kita menjauh dari sumber ketenangan sejati (Allah). Pelan-pelan, tapi pasti, hati mulai kehilangan arah.             Kita masih sering berdo’a, meminta agar jalan hidup kita dimudahkan, rezeki  kita dilancarkan, hati dikuatkan. Tapi kalau jujur, kapan terakhir kali kita benar-benar mendekat kepada Allah tanpa pamrih?, kapan terakhir kita membuka  Al-Qur’an, meresapi  ayat-ayat-Nya, atau sekadar berdzikir dengan tenang tanpa terburu-buru?. Sungguh, tekadang malu rasanya. Kita minta banyak, tapi ...