Langsung ke konten utama

Kilasan Kisah

Kilasan Kisah


Teringat kilasan kisah di pagi menjelang siang hari,

Dengan pemandangan gedung serta perumahan kecil terhampar dihadapan mereka yang tengah selonjoran 

di depan jendela besar yang belum ada pengaman, beralaskan ubin kelas yang masih cukup berdebu habis 

renovasi,

Mereka yang sedang melepas penat sambil menunggu ustadz untuk mata kuliah selanjutnya, bercerita 

singkat tentang keadaan dunia pada saat itu,

Angka kematian dari negara asal virus ini sudah sangat tinggi,

Video orang-orang yang berjatuhan di jalan sampai bunuh diri sudah dipertontonkan di sakan pada malam 

yang lalu

-

Mereka dengan pikiran yang masih melalang buana berpikir akan penyebab dari virus tersebut,

Dengan bumbu-bumbu teori konspirasi yang tersebar dari mulut ke mulut akhwat di sakan, mereka yang 

saling bertukar pikiran akan virus ini menarik sedikit kesimpulan,

-

"Ia yang memutuskan untuk meninggal diatas kelaparan dan keputusasaan yang sangat mendalam,

sampai membunuh dirinya karena sudah lelah akan pandemi ini, dan juga sampai mengorbakan nyawa 

anaknya sendiri,

mereka kebanyakan tidak mempunyai tuhan ataupun mungkin tidak percaya bahwa Allah itu ada, Allah 

itu dekat, Allah itu tidak perna tidur, selalu melihat hambaNya kapanpun dan dimanapun hambaNya 

berada,

ia yang berdiam diri tanpa tau harus berharap kepada siapa,

ia mendekam di dalam rumah tanpa arah,

tak ada yang ia jadikan tempat untuk bersandar,

tak ada yang ia jadikan tempat untuk meluapkan segala keluh serta kesah,

dan akhirnya semua menumpuk tanpa tau harus ia salurkan kemana semua hal itu?

itu semua karena ia tidak percaya bahwa Allah itu ada, dan kebanyakan darinya tak percaya akan Tuhan"

Itu adalah sedikit kesimpulan ini yang terbetik pada pagi hari itu, kesimpulan yang simple tapi sangat 
mendalam untuk mereka dan kalian maknai
Dan kilasan kisah itu kembali terbesit di hari ini,
Mereka yang pada hari itu tak tau bahwa virus itu akan berkuasa di negerinya saat ini, mereka yang 
mungkin pada hari itu tak menyangka virus itu sudah membawa terlalu banyak nyawa dari negerinya 
tercinta, dan tak perna terbesit dalam pemikiran mereka, bahwa dua pekan itu sudah berlalu selama 
setahun.
Semoga sedikit kesimpulan mereka dapat memberi pelajaran, bahwa Allah itu dekat, selalu mendengar 
doa hambaNya, tapi yang Ia kabulkan bukan tentang apa yang hambaNya mau, tapi tentang apa yang 
hambaNya butuh, selalu mengerti akan hal yang hambaNya rasakan, memberikan ujian serta musibah 
bukan untuk menyengsarakan tapi untuk diambil pelajaran serta hikmah didalamnya
-
Jadikanlah Allah sebaik-baik tempat untuk mengembalikan segala lelah, segala keluh juga resah
Jangan bosan-bosan untuk memohon kepadaNya, karena Dialah yang Maha Merajai segala sesuatu, tak 
ada yang tidak mungkin bagiNya 
 

Mahasiswi Putri STIBA Makassar Angkatan 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
  Penjara Bagi Orang-orang Beriman (Andi Meranti) Apakah kalian pernah mendengar istilah ‘Dunia adalah Penjara Bagi Orang-Orang Beriman’? Pada awalnya aku menganggap bahwa itu hanyalah istilah yang dibuat oleh mereka-mereka yang taat beragama. Namun setelah merasakannya sendiri, barulah aku menyadari bahwa istilah itu memang benar adanya. Islam dikenal dengan banyaknya aturan, perintah-perintah yang harus dilaksanakan, serta larangan-larangan yang wajib ditinggalkan. Aku yakin sejak kecil kita semua pasti sudah pernah diajarkan dasar-dasar agama—entah itu dari orang tua, guru-guru di sekolah, atau para ustaz dan ustazah di tempat mengaji. “Kita harus rajin salat supaya masuk surga.” “Kalau tidak pakai jilbab berdosa loh… nanti masuk Neraka.” Kalimat-kalimat tersebut pasti sudah tidak asing di telinga kita. Kalimat yang menjadi ‘senjata’ andalan para orang tua, dan ajaibnya ampuh membuat kita patuh pada perintah mereka kala itu. Namun seiring bertambahnya usia dan berk...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...