Langsung ke konten utama

 Surat Cinta untuk Aspuri


Berbicara telah jauh dengan dalam, agar selalu memberikan yang terbaik pada penghuni asrama yang jumlahnya tak sedikit. Kusebut mereka pada pasukan hijau berlogo Aspuri.

Pada hari yang memberi pengalaman,

Pada kisah yang memberi hikmah,

Pada dinding dinding asrama yang setiap sudutnya memberi kenangan.

Dari mereka aku belajar amanah butuh hati yang sabar dan jiwa yang ikhlas. Setiap episode kehidupan bersama mereka memberi pelajaran bahwa takdir-Nya selalu happy ending meski di awal penerimaan ada air mata yang jatuh, ada hati yang terluka, dan ada jiwa yang terpuruk. Kau percaya bahwa amanah tidak pernah salah dalam memilih pundak?

Bahwa takdir tak pernah salah memihak?

Nyatanya itu benar, hanya orang pilihan yang bisa mengisahkan tokoh di episode kehidupan yang telah diatur oleh sang pengatur semesta alam.

Ini hanya perihal waktu bahwa proses ikhlas itu tidak mudah, kotak waktu memberi ruang pada hati untuk meyakinkan diri setiap peristiwa yang tidak berkenan hati ada kebaikan di baliknya ada hikmah yang bisa dijadikan pelajaran.

Untukmu yang kusebut pasukan hijau terima kasih telah memberi kesempatan untuk tetap bertahan,

Memberi ruang untuk tetap jalan bersama,

Memberi kisah di awal tahun yang akhir nya banyak memberi hikmah. 

Dari nya aku memahami dari sudut pandang yang berbeda, kehidupan berjalan semestinya, hati yang harus selalu siap. Keadaan tidak selalu baik baik saja, tapi Allah menjanjikan surga untuk hamba yang ridho atas ketetapannya

 🖋️Rahmatan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...
  Sibuk Sekarang, Rindu Kemudian (Wahana Sakhwa) Kadang aku bertanya pada diri sendiri: “Kenapa ya, hidup di asrama rasanya capek banget?” Subuh dibangunkan untuk salat, dilanjut tahfidz yaumiyah , lalu kuliah. Belum lagi kegiatan kampus, tugas, musyawarah , piket harian, sampai  terkadang... menangis diam-diam di ranjang sambil berpikir, “Hidup ini kenapa sibuk banget yah?” Namun, di tengah semua itu, aku tetap menjalani semuanya.  Karena aku tahu, semua ini akan selesai. Karena aku percaya, di balik kesibukan ini, ada proses yang sedang membentuk aku. Dan meskipun berat aku tidak sendiri. Hawa nafsu kadang mengajak istirahat sampai kebablasan, entah mengajak tidur saat ada kegiatan yang seharusnya dihadiri, atau menunda-nunda tugas yang ada. Terkadang aku kalah. Tapi, ada juga hari-hari di mana aku menang melawannya. Dan kemenangan dari melawan hawa nafsu itu rasanya sangat tenang. Istiqamah memang tidak pernah mudah, tapi setiap kali kita berhasil menahan diri ...