Langsung ke konten utama

Sepertiga Ramadan yang Pergi

 


Ramadan dan segala apa yang dijanjikan pada mereka yang memasukinya dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Rabb-Nya, sungguh adalah surga di setiap waktunya.

Tak terasa hampir setengah Ramadan yang pergi, seakan awalnya begitu cepat berlalu meninggalkan tanpa sisa kecuali apa yang telah diperjuangkan untuk meraih kemuliaannya.

Jika kita tidak mendapatkan awalnya, sadari dan berlarilah untuk tidak melewatnya seluruhnya. Ramadan, bisakah pelan-pelan saja?

Ramadan bukankah begitu dirindu kedatangannya?

Bukankah hati teramat bahagia mengetahui keagungannya?

Bukankah jiwa merasakan ketenangan saat mengetahui ada ampunan di baliknya?

Lalu setelah sebagian Ramadan yang pergi, masihkan perasaan itu mengakar dalam hati untuk tetap berlari mengejar satu gelar mulia yang disiapkan dan diimpikan para sahabat radhiallahu 'anhum. Predikat takwa, tak ada yang dapat menyandinginya sebab takwa menjadi tolak ukur berhasilnya melewati perlombaan Ramadan.

Jika kita masih punya kesempatan pada sisa-sisa hari yang katanya masih panjang, sungguh waktu tak terasa begitu cepat berganti, bukankah janji setahun lalu begitu kokoh menjadikan Ramadan tahun ini lebih baik lagi? Hingga disisa kesempatan hari yang ada, setiap orang berlomba dengan caranya masing-masing melengkapi dari apa yang tengah banyak yang terlalaikan.

Setiap ibadah akan terasa berbeda dikerjakan di bulan Ramadan, bulan dermawan yang berisi keagungan sebab padanya juga Al-Qur’an diturunkan, pintu-pintu surga terbuka lebar, pintu neraka tertutup dengan rapat, dan di setiap malamnya terpendam ampunan Allah yang begitu luas. 

Sampai pada 12 hari yang telah lewat tanpa sisa, 288 jam yang sedikit saja diisi dengan mendekat kepada-Nya, 8640 menit yang terbuang dengan kurangnya hal bermanfaat dalam hari-hari. Entah tersebab mengejar dunia atau surga Ramadan hampir terkuras dengan tetap melayani hawa nafsu padahal kita tidak tahu mungkin saja Ramadan ini bisa jadi yang terakhir kali.

Jangan pernah berpikir bahwa Ramadan masih panjang dan masih bisa menghabiskan waktu selain untuk beribadah, sebab bukankah penyesalan selalu datang pada akhir setiap kesudahan? Penyesalan tak memiliki kekuatan untuk mengembalikan hari-hari Ramadan yang telah lewat, selain menyadarinya sebelum benar-benar berlalu semuanya.

Ramadan, Jika kamu tak mendapatkan awalnya maka jangan melewatkan akhirnya, sebab benar-benar merugilah seseorang yang mendapati Ramadan tapi ia tidak mendapati ampunan dari Rabbnya. 

Betapa merugi seseorang yang mendapati Ramadan tapi ia tidak mampu melawan hawa nafsunya dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Betapa merugi seseorang yang mendapati Ramadan tapi ia tidak kuat meraih gelar predikat takwa di saat semua pintu surga terbuka untuk meraihnya.

Di sepertiga Ramadan yang telah pergi, berlarilah sekuat-kuatnya pada hari yang tersisa untuk memperbaiki setiap cacat dan patah pada permulaannya. Seiramalah dengan indahnya Ramadan bulan mulia yang begitu agung. Jangan sampai terlewatkan dengan kesalahan yang lagi-lagi sama.

Bulan suci Ramadan masih dimulai, barang siapa yang tidak mendapatkan awalnya maka sadari dan berlarilah mengejar sebelum melewatkan semuanya.


✒️ Knsaalislm_

Mahasiswi STIBA Makassar Angkatan 2019


Komentar

Postingan populer dari blog ini

 Negeriku yang Kucintai (Cinta Febrianty Idham) Dari dulu, aku selalu merasa bangga karena membawa tumbler ke mana-mana. Merasa paling hemat, paling go green , bahkan diam-diam merasa sedikit lebih keren daripada mereka yang masih membeli minuman kemasan. Seolah-olah, dengan membawa botol minum sendiri, aku telah mengambil bagian dalam menyelamatkan bumi. Sampai suatu hari, sebuah video pendek menyadarkan aku bahwa bahkan sesederhana air minum pun tidak sepenuhnya terlepas dari persoalan politik. Dari bagaimana sumber daya dikelola, bagaimana industri dijalankan, bagaimana sampah plastik ditangani, hingga bagaimana kebijakan lingkungan dirumuskan di meja kekuasaan. Ternyata, menjadi ramah lingkungan bukan hanya soal keputusan personal untuk membawa tumbler . Ada sistem yang lebih besar di balik apa yang kita konsumsi, apa yang kita buang, dan lingkungan seperti apa yang akhirnya kita tinggali. Turns out, even the simplest things in life are political. To be honest, life has b...
  Ibu Tak Perlu Sayap untuk Menjadi Malaikat (Kaderia) Ibu, setiap kali aku bercerita tentangmu, air mataku tak mampu kubendung. Ia jatuh begitu saja, tanpa aba-aba, saat aku mengenang segala kerja kerasmu, rasa sakitmu, dan perjuanganmu demi anak-anakmu. Ibu, aku menulis ini bukan karena aku sedih tapi karena aku sangat bangga memiliki sosok sepertimu, mungkin dunia tak tahu betapa hebatnya dirimu dalam mengusahakan segalanya demi kebahagiaanku. Hai, teman-teman... Izinkan aku bercerita sedikit tentang malaikat tanpa sayap yang kumiliki. Dia bukan wanita karier, bukan pula pejabat, ia adalah ibu rumah tangga biasa yang luar biasa. Ketangguhannya tak bisa diukur hanya dari status atau jabatan, melainkan dari kasih sayang dan pengorbanan yang tak ternilai. Setiap pagi, ia memulai harinya lebih awal dari siapa pun di rumah. Sarapan disiapkan dengan telaten, memastikan keluarganya memulai hari dengan penuh energi. Begitu anak-anaknya melangkah ke sekolah, ia tak lantas beris...
Menggapai Cinta Ilahi (Selfiana Elvira Sari Ramadhani) Banyak orang mengira, cinta itu selalu tentang bahagia dan tawa, memberikan keindahan serta kenyamanan... Namun tanpa kita sadari, ternyata itu bukanlah bentuk cinta yang sesungguhnya. Karena cinta tidak selamanya ditunjukkan dengan cara memanjakan, tetapi dengan cara menumbuhkan. Dan sering kali, yang membuat kita menangis, jatuh, bahkan merasa sendirian... disaat itulah ada pelukan yang siap mendekap. Maka dibutuhkan sesuatu dalam diri kita yang hanya bisa tumbuh lewat rasa sakit. Ia menggores untuk menyembuhkan. Ia mengambil untuk menggantikan. Ia menguji untuk menguatkan. Mungkin cinta-Nya tak seindah kisah manusia, tapi di dalamnya ada keindahan yang tidak akan pudar oleh waktu. Cinta manusia bisa berubah, namun cinta Allah tidak. Ia tetap mencintai meski kita sering lupa kepada-Nya. Mencintai dengan cara yang tidak selalu kita mengerti, tapi selalu kita butuhkan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَه...